Kebakaran di Semarang Mayoritas Dipicu Sampah

Ilustrasi kebakaran. (dok. Solopos)
06 Agustus 2018 21:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Dinas Kebakaran Kota Semarang menyebutkan telah terjadi 58 kasus kebakaran di Kota Semarang sejak Januari-Agustus 2018. Mayoritas kasus kebakaran itu dipicu api yang berasal dari gesekan rumput maupun sampah saat cuaca terik siang hari.

Terbaru, kebakaran terjadi di sebuah gudang pengepul barang rongsok di Jl. Brigjen Sudiarto, Pedurungan, Kota Semarang, Senin (6/8/2018) siang. Belum diketahui penyebab kebakaran itu, namun kerugian diperkirakan mencapai jutaan rupiah.

Kepala Bidang Operasional Dinas Kebakaran Kota Semarang, Trijoto Sardjoto, mengatakan kejadian kebakaran meningkat cukup signifikan sejak Mei sampai akhir Juli, seiring datangnya musim kemarau.

“Saya mengimbau kepada seluruh warga Kota Semarang untuk tetap waspada terhadap bahaya kebakaran. Warga harus ekstra hati-hati saat membakar sampah, ilalang, dan yang terpenting tidak buang puntung rokok sembarangan,” kata Trijoto saat dihubungi Semarangpos.com, Senin.

Trijoto menambahkan awal Januari hanya terdapat sekitar 11 kasus kebakaran. Namun, pada bulan Juli kejadian kebakaran bertambah mencapai 58 kali.

Dari sekian banyak kasus kebakaran itu paling banyak api dipicu dari pembakaran sampah, ilalang, dan rumput. Jumlahnya mencapai 34 kasus.

Setelah itu, kebakaran dipicu api dari bangunan rumah sekitar 13 kasus, korsleting listrik delapan kali, alat dapur seperti kompor tujuh kali, dan sisanya kebakaran dari rumah industri.

Trijoto juga mengimbau kepada masyarakat untuk mewaspadai api yang dipicu dari korsleting listrik. Salah satunya, yakni dengan tidak menumpuk saklar.

“Ada baiknya PLN jika ada kebakaran untuk mematikan listrik di sekitar lokasi biar bisa ditangani dengan segera,” imbuh Trijoto.

Sementara itu, proses pemadaman kebakaran di gudang rongsok di kawasan Pedurungan berlangsung cukup lama. Material rongsok yang mayoritas terbuat dari plastik membuat api sulit dipadamkan dan membutuhkan waktu hingga lima jam lebih.

Bahkan petugas pemadam kebakaran harus menerjunkan 18 kendaraan pemadam kebakaran (damkar) serta mengeluarkan bom liquid berisi cairan sabun untuk mengendalikan laju si jago merah.

“Kita gunakan bom liquid biar enggak menjalar kemana-mana. Memang cukup sulit memadamkan karena arus lalu lintas juga padat sehingga menghambat laju kendaraan petugas,” tutur Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Kebakaran Kota Semarang, Sumarsono.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya