Gubernur: Laporkan Bila Warga Jateng Makan Nasi Aking!

Ilustrasi wilayah yang kekeringan. (Bisnis)
07 Agustus 2018 14:50 WIB Alif Nazzala Rizqi Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Gubernur Jateng Ganjar Pranowo meminta masyarakat tidak mengonsumsi nasi aking untuk menyambung hidup. Ia meminta kepada warga Jateng untuk melapor jika menemui tetangga atau kerabat yang makan olahan nasi kering itu.

Dikatakan Ganjar Pranowo, warga yang tinggal di daerah terdampak kekeringan dan mengalami kendala pangan untuk tak memakan nasi bekas yang dikeringkan itu karena alasan gizi. Pasalnya, nasi aking tidak layak untuk dikonsumsi oleh masyarakat.

"Itu nasi bekas, jangan dimakan! Silakan lapor ke saya kalau ditemukan kondisi seperti itu. Saya ingin seluruh warga Jateng semuanya hidup dan makan dengan layak tanpa mengonsumsi nasi aking," tegas Ganjar, Senin (6/8/2018).

Alih-alih makan nasi aking, Gubernur Jateng menyarankan agar masyarakat beralih ke umbi-umbian yang memiliki gizi cukup serta mengenyangkan. Sebab, terang dia, umbi-umbian memiliki kandungan karbohidrat ketimbang mengonsumsi nasi aking.

Dia menjelaskan bahwa umbi-umbian merupakan bagian dari diversifikasi pangan yang digalakkan pemerintah selain beras. Pengolahan tanaman ini, lanjutnya, juga saat ini terus dikembangkan hingga memiliki bermacam varian rasa.

"Saya anjurkan makan tiwul kalau tidak ada beras. Itu enak dan sehat. Yang penting jangan tidak makan," tambahnya.

Dalam sebulan terakhir, Provinsi Jawa Tengah dilanda cuaca kemarau yang berujung bencana kekeringan ekstrem. Berdasarkan data BPBD Jateng, ada ratusan kecamatan dan desa di 21 Kabupaten/Kota yang mengalami krisis air. Kawasan terparah adalah Kabupaten Grobogan, disusul Kebumen, Purworejo, Sragen, dan Cilacap.

Badan Penangulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jateng menyalurkan lebih dari 8 juta liter air bersih demi menanggulangi krisis air itu. Langkah ini dilakukan, untuk mengatasi kekeringan yang melanda 21 kabupaten/kota seluruh Jawa Tengah

Kepala BPBD Jawa Tengah Sarwa Pramana mengatakan, pihaknya telah mengirimkan sebanyak 1.770 tanki air bersih ke total 112 kecamatan dan 276 desa terdampak. Jumlah itu pun telah bertambah sejak penghitungan akhir bulan Juli 2018 lalu.

"Delapan juta liter lebih air sudah terkonsumsi untuk masyarakat. Ini tentunya di luar kebutuhan untuk area pertanian. Saya lihat di media, sudah mengalami kendala tadi pertanian tembakau, kurang air bersih," ujarnya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Bisnis