Lokalisasi Sunan Kuning Akan Diserahkan ke Swasta

Suasana FGD rencana penutupan Sunan Kuning di Hotel Grasia, Kota Semarang, Kamis (9/8 - 2018). (Semarangpos.com/Imam Yuda S.)
09 Agustus 2018 17:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang bersikukuh akan menutup kawasan prostitusi atau lokalisasi Sunan Kuning maksimal akhir 2019 nanti. Pascatutup, Pemkot Semarang berencana memberikan pengelolaan kawasan prostitusi terbesar di ibu kota Jawa Tengah (Jateng) itu kepada pihak swasta.

Hal itu disampaikan wali kota yang akrab disapa Hendi itu saat menghadiri acara focus discussion group (FGD) terkait rencana penutupan Resosialisasi Argorejo atau yang populer disebut lokalisasi Sunan Kuning di Hotel Grasia, Kota Semarang, Kamis (9/9/2018).

Hendi menyatakan proses sosialisasi penutupan Sunan Kuning saat ini terus digalakkan, salah satunya dengan membekali semua pekerja seks komersial (PSK) dengan keterampilan wirausaha.

"Nanti yang warga lokal yang punya usaha di Sunan Kuning bisa diberikan tempat atau dicarikan lahan lain. Sehingga, tanah di situ bisa dipakai swasta atau pemerintah untuk kegiatan bermanfaat," ujar Hendi.

Hendi menambahkan penutupan Sunan Kuning merupakan tindaklanjut kebijakan pemerintah pusat melalui Kementerian Sosial (Kemensos) yang mencanangkan Indonesia Bebas Prostitusi 2019.

Terkait kebijakan itu, ia pun sudah bertemu dengan para tokoh agama maupun tokoh masyarakat untuk mendapat dukungan menutup Sunan Kuning.

Meski demikian, ia juga telah mengimbau kepada Dinas Sosial (Dinsos) Kota Semarang tidak gegabah dalam mengambil keputusan terkait penutupan lokalisasi yang dihuni lebih dari 488 PSK itu.

"Saya larang upaya penutupan yang membuat PSK jadi berkeliaran di jalanan. Dinas Sosial harus cermat mengambil kebijakan," imbuh politikus PDI Perjuangan itu.

Sementara itu, Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinsos Kota Semarang, Tri Waluyo, menyatakan saat ini ada tiga investor yang berminat mengambilalih lahan lokalisasi Sunan Kuning.  Ketiga investor itu bahkan sudah berulangkali melobi Dinsos untuk mengelola lahan Resosialisasi Argorejo.

"Ketiga investor itu ingin mengubah lokalisasi Sunan Kuning sebagai pusat UMKM, lembaga pendidikan, dan satu lagi tempat bisnis," tutur Tri.

Tri menyebutkan ketiga investor itu berasal dari Kota Semarang. Meski demikian, demikian, ia enggan menyebut nama tiga investor yang meminati lahan sunan kuning.

Tri menegaskan bisnis esek-esek di Sunan Kuning harus ditutup karena kebijakan pemerintah pusat, sehingga wajib dipatuhi. Untuk nasib para pekerja seksnya, Tri menyebutkan mayoritas berasal dari luar Semarang, sehingga akan dipulangkan ke kampung halaman.

"Makanya kita berupaya membekali mereka dengan pelatihan usaha, mulai dari membuat roti, menjahit, berdagang, dan wirausaha lainnya," imbuh Tri.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya