Jateng Selatan Masuki Puncak Musim Kemarau

Peta prakiraan curah hujan Jawa Tengah bulan Agustus 2018. (Antara/BMKG)
10 Agustus 2018 02:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, CILACAP Wilayah Jawa Tengah bagian selatan diprakirakan telah memasuki puncak musim kemarau. Demikian diungkapkan Kepala Kelompok Teknisi Stasiun Meteorologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Cilacap Teguh Wardoyo.

"Bulan Agustus ini memang diprakirakan menjadi puncak musim kemarau untuk wilayah Jateng selatan, khususnya Kabupaten Cilacap dan Banyumas, meskipun berpeluang terjadi hujan," katanya di Cilacap, Jateng, Kamis (9/8/2018).

Tokopedia

Ia mengatakan curah hujan pada Agustus 2018, khususnya di Kabupaten Cilacap, diprakirakan mencapai 50 mm meskipun normalnya 80 mm. Kendati berpeluang terjadi hujan, lanjut dia, hingga saat ini belum terpantau adanya tanda-tanda akan datangnya musim hujan.

Oleh karena Agustus 2018 diprakirakan sebagai puncak musim kemarau, dia mengimbau pihak-pihak terkait untuk mengantisipasi kemungkinan bertambahnya daerah yang mengalami kekeringan maupun krisis air bersih untuk konsumsi. "Selain puncak musim kemarau, bulan Agustus juga diprakirakan menjadi puncak musim angin timuran di laut selatan Jateng dan Yogyakarta sehingga gelombang tinggi masih berpeluang terjadi," katanya.

Akan tetapi, kata dia, tinggi gelombang yang terjadi pada Agustus diprakirakan tidak seekstrem gelombang tinggi pada akhir Juli 2018. Menurut dia, gelombang tinggi yang terjadi pada akhir Juli sehingga mengakibatkan sejumlah kerusakan itu dipengaruhi beberapa faktor, salah satunya pasang-surut air laut.

"Gelombang tinggi masih berpeluang terjadi pada bulan Agustus karena di belahan bumi selatan masih terdapat pusat tekanan tinggi, sedangkan di belahan bumi utara terdapat beberapa pusat tekanan rendah. Interaksi antara tekanan tinggi dan tekanan rendah berdampak pada peningkatan tinggi gelombang di laut selatan Jateng-Yogyakarta," katanya.

Meskipun demikian, Teguh memrakirakan tinggi gelombang dalam satu pekan ke depan cenderung menurun namun masih tetap berbahaya karena maksimum bisa mencapai empat meter.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Antara