Derita Atresia Bilier, Bayi Rider Gojek Semarang Tunggu Transplantasi Hati

Setyaningsih ditemani suaminya, Ade Irawan, tengah menggendong bayinya, Francisca Felicia Irawan, yang menderita atresia bilier di rumahnya, Jl. Tlogosari Raya, Kota Semarang, Selasa (14/8 - 2018). (Semarangpos.com/Imam Yuda S.)
15 Agustus 2018 07:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Bayi berusia sembilan bulan bernama Francisca Felicia Irawan itu terus menangis dalam dekapan ibunya, Setyaningsih, 32. Selang pernapasan yang melintang di hidung membuat Felis, panggilan bayi itu, kesulitan untuk tidur.

“Kalau mau tidur [Felis] memang seperti ini,” ujar Setyaningsih saat disambangi Semarangpos.com di rumahnya yang berada di Jl. Tlogosari Raya, Kota Semarang, Selasa (14/8/2018) siang.

Ayah Felis, Ade Irawan, 37, yang juga tengah berada di rumah lantas menjelaskan perihal penyakit yang diderita putrinya. Ia mengatakan bahwa putrinya mengidap atresia bilier, penyakit saluran empedu langka yang menyerang bayi. Saluran empedu itu membengkak dan menyebabkan kerusakan hati.

Penyakit itu diketahui Ade saat usia putrinya 1,5 bulan. Oleh dokter di RSUP dr. Kariadi, bayi yang lahir 16 November 2017 itu pun lantas disarankan menjalani operasi kasai saat usianya menginjak 2,5 bulan.

“Setelah operasi, dokter memperbolehkan pulang. Tapi, baru sepekan menjalani operasi Felis disarankan untuk menjalani transplantasi hati ke RSCM [Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo] Jakarta,” tutur Ade.

Felis sebenarnya dijadwalkan menjalani operasi cangkok hati pada Agustus ini. Namun, operasi itu hingga kini belum terlaksana menyusul belum adanya pendonor.

Ade yang sebelumnya bakal menjadi pendonor utama cangkok hati ternyata tidak memenuhi kriteria. Sebagai gantinya, sang ibulah yang diharapkan bisa menjadi pendonor setelah melalui serangkain screening yang biayanya mencapai Rp140 juta.

“Kalau mau cangkok hati ada proses screening lebih dulu untuk mengetahui kecocokan antara si pendonor dengan resipien. Setelah semua proses screening, ternyata hasil laboratorium menyatakan saya belum memungkinkan,” ujar pria yang sehari-hari bekerja sebagai rider Gojek itu.

Ade berharap hasil screening istrinya berbeda dengan dirinya, sehingga mampu menjadi pendonor hati bagi putri keduanya itu. Meski pun, istrinya memiliki riwayat penyakit hepatitis.

“Istri ada riwayat hepatitis, tapi mau dicek dulu untuk melihat aktif atau tidak virus dalam darah. Tapi, kemarin dicek pertandanya bagus. Semoga bisa jadi pendonor,” imbuh Ade.

Riwayat hepatitis Setyaningsih pun membuat Felis harus mendapat suntikan vaksin selama dua tahun ke depan setelah operasi cangkok hati. Bila ditotal, biaya vaksin itu mencapai Rp200 juta. Biaya itu belum termasuk biaya screening maupun asupan gizi bagi Felis, berupa susu khusus dengan harga Rp300.000 per kaleng. Kebutuhan susu dalam satu bulan untuk Felis pun mencapai Rp6 juta.

Setyaningsih mengendong bayinya yang menderita atresia bilier di rumahnya Jl. Tlogosari Raya, Semarang, Selasa (14/8/2018). (Semarangpos.com-Imam Yuda S.)

“Saat ini dia hanya bisa mencerna susu itu. Untuk yang lainnya belum bisa,” ujar Setyaningsih.

Ade mengaku selama menjalani perawatan di RSCM Jakarta, putrinya tinggal di Rumah Singgah Pejuang Hati. Rumah itu diperuntukan bagi penderita kelainan hati yang akan menjalani operasi di RSCM.

Selama tinggal di Jakarta, Ade pun mengaku tidak lagi mengais rejeki sebagai tukang ojek online. Meski demikian, rekan-rekan pengemudi ojek online tetap memberikan dukungan secara morel.

“Mereka tadi malam bahkan datang ke sini [rumah]. Banyak berpesan agar kami tabah menghadapi cobaan ini. Mereka juga mendoakan agar Felis lekas sembuh,” tutur pria asal Boyolali itu.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Tokopedia