Terkena Proyek Tol Semarang-Batang, Ribuan Makam Dibongkar

Para pekerja tengah membongkar makam di Desa Klampisan, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, Rabu (15/8 - 2018). Makam tersebut dibongkar karena terdampak proyek tol Semarang/Batang. (Semarangpos.com/Imam Yuda S.)
16 Agustus 2018 16:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG – Sekitar 1.200 makam di Kampung Klampisan, Kelurahan Purwoyoso, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, akhirnya dibongkar, Rabu (15/8/2018). Ribuan makam itu dibongkar karena terimbas proyek pembangunan tol seksi V Semarang-Batang.

Pembongkaran makam itu turut disaksikan sejumlah ahli waris yang merupakan warga Kelurahan Klampisan. Jasad dalam makam yang telah dibongkar itu lantas dipindahkan oleh para pekerja dengan menggunakan peralatan lengkap.

“Sampai sejauh ini jumlah jenazah yang telah kita pindahkan mencapai 1.200 an. Kemungkinan jumlahnya bisa bertambah,” ujar Ketua Panguyuban Ngarso, Rubiono, di lokasi pembongkaran makam, Rabu siang.

Rubiono menambahkan area permakaman Klampisan memiliki luas mencapai 5,3 hektare. Makam itu menjadi satu-satunya lahan tersisa yang belum dibongkar karena terdampak proyek pembangunan tol Semarang-Batang.

Proses relokasi ribuan makam melibatkan sekitar 70 orang penggali dengan menggunakan peralatan lengkap. Kegiatan pembongkaran dimulai sejak 15 Agustus hingga 30 hari kedepan.

“Setelah ini, jenazah yang kita gali akan dipindahkan ke lokasi makam yang baru. Makam baru luasnya sekitar 12.400 meter persegi, jaraknya juga sekitar 500 meter dari sini,” imbuh Rubiono.

Rubiono menyebutkan makam Klampisan merupakan makam tua yang terletak di pinggir Kota Semarang. Dulu sebelum terjadinya pemekaran, kompleks makam Klampisan masuk wilayah Kecamatan Tugu.

Makam itu dikenal dengan sebut makam Klampisan berdasarkan nama sesepuh desa itu yang kali pertama dimakamkan. Meski demikian, hingga kini lokasi makam sesepuh itu tidak diketahui letak pastinya.

Sementara itu, salah seorang warga yang makam kerabatnya turut dibongkar, Slamet Widodo, turut menyaksikan proses pemindahan jenazah. Ia awalnya mengaku berat merelakan makam leluhurnya dibongkar.

“Tapi mau bagaimana lagi, karena untuk jalan tol. Kalau kompensasi enggak ada, cuma penggantian makam baru. Semoga di makam yang baru lokasinya lebih baik dan rindang, serta ada air untuk ziarah malam,” tutur Slamet.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya