TKI Jateng di Timur Tengah Tinggal Separuh

Petugas Kementerian Luar Negeri bersama BNP2TKI mendata warga negara Indonesia (WNI) yang bekerja di Arab Saudi setibanya di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Sabtu (10/6 - 2018). (Antara/Muhammad Iqbal)
16 Agustus 2018 18:50 WIB Alif Nazzala Rizqi Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Kebijakan pemerintah membatasi pengerahan tenaga kerja Indonesia (TKI) ke negara-negara di Timur Tengah menyebabkan jumlah TKI asal Jateng di kawasan itu anjlok. Moratorium itu menyebabkan jumlah TKI Jateng yang awalnya berjumlah 100.000 orang di Timur Tengah, kini tinggal 50.000 orang.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jateng Wika Bintang menuturkan adanya pembatasan pengerahan TKI itu sangat berpengaruh terhadap jumlah buruh migran Indonesia yang bekerja di kawasan Jazirah Arab. Untuk itu, Pemprov Jateng terus membina para mantan TKI agar bisa mandiri.

"Pembatasan TKI untuk bekerja di negara-negara Arab menyebabkan angka TKI turun. Karena beberapa TKI asal Jateng mengantungkan hidupnya untuk bekerja di Timur Tengah," kata Wika Bintang, Kamis (16/8/2018).

Menurutnya, adanya pembatasan TKI untuk bekerja di Timur Tengah adalah upaya memperbaiki beberapa peraturan yang ada. Ini dimaksudkan agar tidak ada lagi cerita pilu TKI yang bekerja di kawasan timur tengah.

Dikatakan Wika, untuk pembatasan TKI yang bekerja di Timur Tengah adalah dari sektor informal seperti pembantu rumah tangga. Sementara itu, untuk sektor formal, Indonesia masih mengerahkan tenaga kerja di kawasan Timur Tengah.

"Kami menegaskan pembatasan TKI hanya dari sektor informal kebanyakan pembantu rumah tangga, dan kini pemerintah sedang menggodok aturan terbaru untuk TKI yang akan bekerja di kawasan Timur Tengah," ujarnya.

Hal ini berbanding terbalik dengan angka TKA yang bekerja di Jateng. Pasalnya jumlah TKA di Jateng meningkat sampai tujuh kali lipat. Disnakertrans mencatat TKA yang bekerja di Jateng melonjak tajam, dari yang semula berjumlah 2.119 TKA pada akhir tahun 2017, kini tahun 2018 mencapai 14.148 TKA.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Bisnis