Rendahnya Minat Baca Picu Penyebaran Hoaks

Kapolres Kudus AKBP Agusman Gurning menyampaikan sambutan sekaligus membuka acara sosialisasi Undang-Undang ITE-Pers dan Literasi Media Indonesia Tanpa Hoax di Hom Hotel Kudus, Senin (20/8 - 2018). (Antara/Akhmad Nazaruddin Lathif)
21 Agustus 2018 10:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, KUDUS — Rendahnya minat baca masyarakat dituding sebagai salah satu penyebab suburnya penyebaran berita hoaks atau kabar bohong. Tudingan itu dikemukakan alumni mentor Google News Initiative, Hartatik, saat tampil sebagai pembicara dalam Sosialisasi Undang-Undang ITE-Pers dan Literasi Media Indonesia Tanpa Hoax di @Hom Hotel Kudus, Senin (20/8/2018).

"Karena minat baca mengakibatkan kemampuan berpikir kritisnya juga rendah sehingga saat menerima informasi sulit membedakan mana berita yang benar dan mana berita yang palsu," ujar Hartatik dalam Sosialisasi Undang-Undang ITE-Pers dan Literasi Media Indonesia Tanpa Hoax yang diselenggaraan oleh PWI Kudus bekerja sama dengan Polres Kudus. Kegiatan itu dilaksanakan sebagai peringatan HUT ke-73 Republik Indonesia dan Hari Bhayangkara ke-72 setelah sebelumnya juga menggelar lomba membuat poster bertemakan “Indonesia Merdeka Tanpa Hoax" dan lomba menulis untuk polisi.

Demi mengantisipasi merebaknya hoaks, dia mengajak masyarakat—khususnya pelajar—untuk meningkatkan budaya membaca agar tidak mudah tertipu dengan berita palsu. Selain itu, kata dia, dengan minat membaca yang tinggi tentunya akan memperluas wawasan, mempertajam gagasan, serta meningkatkan kreativitas.

Ia mengingatkan budaya membaca bangsa Indonesia berdasarkan hasil survei lembaga dunia, masih kalah dengan negara tetangga, seperti Thailand. Pada kesempatan tersebut, dia membagi tips untuk mengetahui bahwa informasi tersebut asli atau palsu.

"Untuk mengecek keaslian sebuah foto juga bisa memanfaatkan teknologi informasi sehingga masyarakat tidak mudah tertipu," ujarnya.

Selain itu, dia juga mengingatkan, jangan mudah percaya dengan penyebaran berita lewat media sosial yang tidak dalam bentuk sumber aslinya atau dalam bentuk tangkapan layar (screenshot). Apalagi, kata dia, judul dan konten hasil tangkapan layar bisa juga diubah sesuai kepentingan penyebarnya.

Ia mengingatkan jangan asal menyebar berita yang belum tentu kebenarannya sebelum benar-benar dilakukan pengecekan kebenaran berita tersebut. "Jangan lupa mengecek situs media mainstream. Apakah informasi tersebut juga ada di media tersebut. Jika ada, bacalah dengan seksama," ujarnya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Tokopedia

Sumber : Antara