Investasi Bodong Patah Tumbuh Hilang Berganti

Ilustrasi investasi bodong. (Bisnis)
25 Agustus 2018 20:50 WIB Alif Nazzala Rizqi Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Satuan tugas penanganan dugaan tindakan melawan hukum di bidang penghimpunan dana masyarakat dan pengelolaan investasi (Satgas waspada investasi), Agustus 2018 lalu, menghentikan 98 lagi entitas investasi yang beroperasi tanpa izin alias ilegal. 

Penghimpunan dana masyarakat atau kegiatan usaha yang tidak punya izin otoritas dari manapun masih saja terjadi. Padahal penghimpunan dana ilegal atau investasi bodong itu dapat merugikan masyarakat.

Ketua Satgas Waspada Investasi, Tongam L. Tobing mengatakan, ada dua faktor yang menyebabkan investasi bodong tersebut masih banyak ditemukan dan tumbuh kembali sesudah dihentikan.  "Pertama data investasi bodong meningkat karena ada transparansi di satgas. Ketika ada laporan dari masyarakat kita segera merespon sehingga muncul ke permukaan.

Kedua, paparnya, karena kemajuan teknologi informasi membuat orang mudah menawarkan investasi bodong melalui website, media sosial,dan lainya. "Kondisi inilah yang membuat para pelaku banyak melakukan kegiatan itu," ujarnya, Jumat (24/8/2018).

Dikatakannya, saat ini, investasi bodong lebih banyak ditemukan di kota-kota besar karena pelaku beranggapan bahwa di kota besar inilah tempatnya transaki uang dalam besar. "Kebanyakan di kota besar Jabodetabek, Surabaya, Bandung yang jadi sasaran mereka. Mereka mengganggap peredaran uang di kota itu besar. Dan di Jateng [investasi bodong] juga banyak," jelasnya.

Dikatakan, masyarakat harus waspada dan selalu berhati-hati dan jangan mudah tergiur dengan iming-iming imbalan yang besar. Masyarakat pun harus berpikir logis agar tidak mudah tertipu. "Masyarakat harus waspada jangan mudah tergiur tawaran-tawaran investasi yang datang karena masyarakat ini hanya dimanfaatkan pelaku. Masyarakat harus lihat dua hal legalitas dan logis," terangnya.

Ia menyebut, akibat investasi ilegal, kerugian yang harus ditanggung dari tahun 2007 hingga 2017 sudah mencapai Rp105,8 triliun. "Itu baru yang terdeteksi, ada juga yang tidak lapor, jadi potensi kita waspadai," pungkasnya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Tokopedia

Sumber : Bisnis