Charoen Pokphand Bangun Entrepreneur Teaching Centre di Undip

Rektor Undip Semarang Prof. Yos Johan Utama (kanan) bersama Presiden Direktur PT Charoen Pokphand Indonesia (CPI) Thomas Effendy meninjau Toko Ritel Prima Fresh Mart (PFM) sebagai hilirisasi untuk melatih kewirausahaan kepada mahasiswa, di Semarang, Jateng, Jumat (24/8 - 2018). (Antara/Zuhdiar Laeis)
26 Agustus 2018 02:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — PT Charoen Pokphand Indonesia (CPI) membekali mahasiswa di Universitas Diponegoro (Undip) kemampuan entreneurship dengan pembangunan Entrepreneur Teaching Centre di kampus perguruan tinggi di Semarang, Jawa Tengah itu.

"Kami membentuk sebuah teaching centre yang dapat membangun jiwa entreprenuership mahasiswa, khususnya Undip," kata Presiden Direktur PT CPI Thomas Effendy seusai peresmian ETC Undip, Semarang, Jateng, Jumat (24/8/2018).

Hibah Gedung ETC itu, kata dia, merupakan kelanjutan dari kerja sama CPI dengan Undip sebagai mitra akademik setelah menyerahkan hibah kandang closed house dengan kapasitas sekitar 20.000 ekor ayam. Kandang closed house yang dibangun di kawasan Kampus Fakultas Peternakan dan Pertanian (FPP) Undip, lanjut dia, bisa menjadi tempat mahasiswa mempraktikkan langsung ilmu yang didapat di bidang peternakan.

"Tentunya, dengan bimbingan tenaga ahli yang sudah kami siapkan sehingga pada saat mereka lulus kuliah sudah siap untuk memasuki dunia kerja. Namun, tantangan ternyata tidak berhenti sampai penyiapan tenaga kerja," katanya.

Artinya, kata Thomas, harus dilakukan penyiapan satu tingkat lebih tinggi, yakni mahasiswa sebagai pencipta lapangan kerja yang tentunya bisa didapatkan dengan penyediaan fasilitas yang memadai. "Ini kami kali pertama kerja samanya dengan Undip untuk menyediakan satu fasilitas entrepreneurship bagi mahasiswa. Sebenarnya entrepreneur bukan harus punya banyak duit, kemudian jadi wirausahawan," katanya.

Secara simpel, kata dia, mahasiswa bisa memanfaatkan hasil ayam dari kandang ternak itu untuk dijual kepada tetangganya dengan harga yang lebih murah dari harga pasaran, tetapi tetap mendapatkan untung. "Misalnya, pulang kuliah ada tetangga titip empat ekor ayam. Satu ekor bisa untung Rp2.000 dengan dijual satu ekor Rp25.000. Tetangga juga tidak rugi, mahasiswa sudah menjadi pengusaha, simpel," katanya.

Dengan fasilitas ETC Undip, kata dia, terbangun rantau distribusi pangan, mulai kandang closed house sebagai hulu sampai Toko Ritel Prima Fresh Mart (PFM) milik CPI yang dibangun di Undip sebagai hilirnya. Sampai saat ini, kata dia, CPI telah memiliki 450-an toko PFM di seluruh Indonesia, salah satunya di Undip yang bisa dipergunakan mahasiswa dan dosen untuk belajar mulai pelayanan konsumen sampai logistik.

"Ini ayam dari Undip kan dikirim ke Salatiga, kami punya rumah pemotongan ayam di sana, kemudian ayamnya dijual di kampus sini. Untuk kandang 'closed house', kami lihat mana perguruan tinggi lagi yang mau," katanya. Sepertinya, sambung Thomas, Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Universitas Hasanuddin (Unhas), Universitas Andalas (Unand), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Universitas Lampung (Unila) juga berminat.

Sementara itu, Rektor Undip Prof Yos Johan Utama mengapresiasi CPI yang bersedia bekerja sama membangun laboratorium entrepreneurship untuk membantu mahasiswa belajar mengenai kewirausahaan. "Ini upayanya bagaimana mahasiswa jangan digerakkan jadi pegawai, tetapi digerakkan jadi entrepreneur. Mahasiswa akan dilatih, alat dan bahannya dari sana [CPI] semua," kata Guru Besar Fakultas Hukum (FH) Undip itu.

Selain dengan FPP, CPI juga menjalin kerja sama dengan Fakultas Psikologi untuk program "Bakti Pada Guru" yang telah dimulai pada 13 September 2017 yang hingga kini telah melatih sebanyak 1.453 guru.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Antara