Festival Pasar Rakyat 2018 Digelar 1,5 Bulan di Pasar Rejowinangun Magelang

Ketua Komunitas Kota Toea Magelang Bagus Priyana (kanan) menjelaskan gambar bersumber dari kartu pos 1920 tentang aktivitas masa lalu Pasar Rejowinangun kepada budayawan Sutanto Mendut (kiri) saat puncak Festival Pasar Rakyat 2018 di Pasar Rejowinangun Kota Magelang, Minggu (26/8 - 2018). (Antara/Hari Atmoko)
27 Agustus 2018 16:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, MAGELANG — Forum Komunitas Senibudaya Magelang menjadikan Pasar Rejowinangun Kota Magelang, Jawa Tengah sebagai panggung performa seni berbagai kelompok kesenian pada puncak Festival Pasar Rakyat 2018, Minggu (26/8/2018).

Dalam festival yang didukung Yayasan Danamon Peduli dan mendapat restu Pemerintah Kota Magelang itu, terlibat performa seni sekitar 65 komunitas berbagai lintas sektoral dengan total 1.000 personel selama pergelaran, 22 Juli dengan puncaknya Minggu (26/8/2018).

Hadir pada puncak festival di tengah pasar tradisional di pusat Kota Magelang itu, antara lain Kepala Subdirektorat Pengelolaan Sarana Distribusi Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan M. Anwar Achmad, Ketua Dewan Pembina Yayasan Danamon Peduli Bayu Krisnamurthi, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Pemkot Magelang Sri Retno Murtiningsih, dan Ketua Umum Yayasan Danamon Peduli Restu Pratiwi.

"Acara tanpa setting, pedagang dan pengunjung pasar tetap beraktivitas seperti biasa. Ini memberi suasana makin hidup di pasar tradisional ini," ujar ketua umum Panitia Festival Pasar Rakyat 2018 yang juga Koordinator FKSM, Andritopo Senjoyo.

Ia menyebut pasar terbesar di Kota Magelang itu sebagai "panggung" sedangkan para seniman dan berbagai komunitas peserta festival berbaur di tengah aktivitas sehari-hari Pasar Rejowinangun. Pasar Rejowinangun Kota Magelang pernah terbakar hebat pada pertengahan 2008 dan kemudian dibangun kembali serta diresmikan pada awal 2014 itu. Pada 2017 Pasar Rejowinangun mendapat Anugerah Pancawara sebagai pasar terbaik nasional.

Dalam rangkaian festival selama 1,5 bulan itu, antara lain dilaksanakan bersih sungai di dekat pasar itu, ruwat pasar, melukis mural di pasar, pameran fotografi di area kuliner pasar, dan performa seni di berbagai lorong pasar, seperti pentas tari, pembacaan puisi dan guritan, performa gerak, pentas musik, pentas pantomim, teatrikal, dan tur pasar. Beberapa tempat di pasar itu juga dibuat instalasi seni, termasuk berupa pasar apung di sungai dekat Pasar Rejowinangun.

Pada kesempatan itu, Kepala Subdirektorat Pengelolaan Sarana Distribusi Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan M. Anwar Achmad menjelaskan tentang berbagai program revitalisasi pasar tradisional yang bukan sekadar bangunan fisik akan tetapi juga nonfisik, seperti pemberdayaan pedagang pasar rakyat, aktivitas pasar, dan sekolah pasar. Ia mengemukakan pentingnya membangun pasar yang bersih dan nyaman untuk beraktivitas sehari-hari masyarakat.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Danamon Peduli Bayu Krisnamurthi mengatakan pasar rakyat bukan sekadar tempat berjualan barang akan tetapi juga tempat berkembang interaksi sosial masyarakat.

Ia menyebut pasar rakyat sebagai simbol peradaban, terutama karena terjadi interaksi sosial yang intensif.

"Festival Pasar Rakyat ini mengingatkan kembali tentang kearifan lokal budaya yang mengajarkan kita tentang kehidupan," ujar dia.

Pada kesempatan itu ia mengemukakan pentingnya Festival Pasar Rakyat di Pasar Rejowinangun Kota Magelang itu sebagai agenda berkelanjutan pada tahun-tahun mendatang. "Apalagi di sini, Festival Pasar Rakyat dilakukan oleh komunitas," kata dia.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Pemkot Magelang Sri Retno Murtiningsih mengharapkan festival tersebut memberi daya hidup atas aktivitas sehari-hari Pasar Rejowinangun pada masa mendatang. "Memberi manfaat dan 'barokah' (berkah) penghuni pasar dan masyarakat Kota Magelang," katanya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Tokopedia

Sumber : Antara