Solo Jadi Pusat Peredaran Narkoba di Jateng

Kepala BNN Jateng, Brigjen Pol. M. Nur (kanan depan), saat menggelar jumpa pers terkait penangkapan 8 tersangka pengedar narkoba Soloraya di Kantor BNN Jateng, Semarang, Rabu (29/8 - 2018). (Semarangpos.com/Imam Yuda S.)
30 Agustus 2018 12:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Kasus peredaran narkotika dan obat berbahaya lain (narkoba) di wilayah Soloraya menjadi tertinggi di Jawa Tengah (Jateng) sepanjang tahun 2018. Dari 13 kasus yang diungkap Badan Narkotika Nasional (BNN) Jateng, 8 di antaranya atau sekitar 61% berada di wilayah Soloraya.

“Dari 13 kasus yang kami tangani sepanjang 2018 ini, delapan di antaranya berasal dari Solo. Ini membuktikan kalau peredaran narkoba, terutama jenis sabu-sabu, di Solo semakin marak,” ujar Kabid Brantas BNN Provinsi Jateng, AKBP Suprinarto, saat dijumpai Semarangpos.com di Kantor BNN Provinsi Jateng, Jl. Madukoro, Kota Semarang, Rabu (29/8/2018).

Suprinarto menyebutkan dari total 13 kasus penyalahgunaan narkoba itu, BNN Jateng mengamankan sekitar 21 orang tersangka. Dari 21 orang tersangka itu, 13 orang di antaranya merupakan warga Soloraya.

“Dari 13 kasus penyalahgunaan narkoba itu, kami berhasil mengamankan sekitar 7,8 kg sabu-sabu dan 110 butir pil Inex [ekstasi]. Ya, yang paling banyak kami amankan dari Solo,” tutur Suprinarto.

Suprinarto menjelaskan maraknya peredaran narkoba di Kota Solo sebenarnya sudah terjadi sejak beberapa tahun terakhir. Bahkan, pihak BNN telah berusaha mengatasi kondisi itu dengan mendirikan BNN tingkat kota yang baru terbentuk awal Maret lalu.

Meski demikian, BNN Kota Solo yang baru saja terbentuk sepertinya belum mampu mengatasi maraknya peredaran narkoba di Kota Bengawan.

“Saya rasa wajar kalau BNNK Solo belum mampu bekerja secara maksimal. Mereka baru terbentuk. Personel juga masih sedikit, makanya masih sering di-back up dari [BNN] Jateng,” imbuh Suprinarto.

Suprinarto menambahkan tingginya peredaran narkoba di Solo tak terlepas dari kondisi wilayah tersebut yang strategis. Wilayah Soloraya merupakan jalur perlintasan antarprovinsi, yakni Yogyakarta dan Jawa Timur (Jatim).

“Lokasi Solo dan sekitarnya [Soloraya] itu sangat strategis sebagai jalur transaksi narkoba. Selain jalur perlintasan, di daerah ini juga banyak beberapa wilayah yang tidak ter-cover, seperti Wonogiri, Sragen, atau Karanganyar. Wilayah-wilayah itu berbatasan langsung dengan provinsi lain, jadi sulit diawasi,” terang Suprinarto.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Tokopedia