Begini Cara Petani Sumbing Pertahankan Kemurnian Tembakau Temanggung

Petani di lereng Gunung Sumbing, Kabupaten Temanggung, Jateng menjemur tembakau. (Antara/Heru Suyitno)
03 September 2018 10:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, TEMANGGUNG — Para petani di lereng Gunung Sumbing, di Dusun Lamuk Legok, Desa Legoksari, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah mempertahankan kemurnian tembakau Temanggung meskipun hasil panen tahun ini mengalami penurunan.

Kepala Desa Legoksari, Kecamatan Tlogomulyo, Subakir, di Temanggung, Minggu (2/9/2018), mengatakan para petani tidak mau mencampur tembakau setempat dengan tembakau dari luar daerah meskipun hasil panennya tidak sampai satu keranjang. "Para petani memproses hasil panen tembakau secara bersama-sama. Upaya ini sebagai salah satu upaya untuk mempertahankan kemurnian tembakau asli lereng Gunung Sumbing," katanya.

Ia menuturkan panen tembakau tahun ini turun antara 20% hingga 30% dari tahun lalu sehingga untuk mendapatkan tembakau dalam jumlah satu keranjang atau minimal 30 kg tembakau rajangan kering, beberapa petani bergabung menjadi satu saat memproses tembakau. Menurut dia, pada panen tembakau tahun ini, dalam 1 ha lahan tanaman tembakau diperkirakan hanya menghasilkan 700 kg tembakau rajangan kering, sedangkan pada kondisi normal 1 ha lahan tanaman tembakau bisa menghasilkan 1.000 kg tembakau rajangan kering.

"Turunnya cukup banyak, penurunan produksi ini karena faktor cuaca yang terjadi selama masa tanam hingga panen raya tahun ini hampir tidak ada hujan," katanya.

Ia menjelaskan dari kisaran lahan seluas 2.500 m2 pada petik awal hanya bisa mendapatkan antara 70 kg hingga 100 kg daun tembakau, padahal untuk satu keranjang tembakau minimal dibutuhkan 200 kg hingga 250 kg daun tembakau basah. "Oleh karena itu, petani lebih memilih memproses tembakau secara bersama atau berkelompok. Pada petik awal hingga petik ketiga memang hasilnya tidak bisa satu keranjang penuh, jadi beberapa petani bergabung menjadi satu untuk mendapatkan satu keranjang penuh," katanya

Ia mengatakan mayoritas petani di desanya memilih cara seperti ini dari pada harus menambah daun tembakau basah dari luar daerah yang kualitasnya tidak pasti, sehingga nantinya akan mempengaruhi kualitas tembakau rajangan kering. "Kualitas daun tembakau dari luar daerah belum tentu sama, apalagi daun tembakau dari luar Kabupaten Temanggung. Oleh karena itu petani lebih memilih menyatukan hasil panen mereka dari pada harus menambah daun tembakau dari luar daerah," katanya.

Ia menuturkan dengan langkah tersebut, kemurnian tembakau lokal Desa Legoksari khususnya dan Temanggung pada umumnya akan tetap terjaga. Selain itu harga dari tembakau rajangan kering juga akan lebih baik.

Ia mengatakan dalam pembagian hasil panen tidak mengalami kesulitan, karena pembagian dihitung sesuai dengan jumlah daun tembakau dari setiap petani dalam satu kelompok. "Tidak ada yang dirugikan, justru dengan pola ini petani diuntungkan karena bisa menghemat biaya produksi," katanya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

 

Sumber : Antara