Mengintip Keseharian Atlet Binaan PB Djarum di Asrama

Atlet binaan PB Djarum, Calvin Kennedy Chandrawinata (kedua dari kiri), berfoto bersama pengamat olahraga, Wesley Huta saat menghadiri sesi jumpa pers di GOR Djarum, Jati, Kudus, Kamis (6/9 - 2018). (Semarangpos.com/Imam Yuda S.)
07 September 2018 18:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Mungkin kata-kata itu cocok untuk menggambarkan para atlet binaan klub bulu tangkis PB Djarum di Kudus.

Demi meraih cita-cita menjadi pebulu tangkis andal yang berprestasi di kancah internasional, seperti Kevin Sanjaya maupun Liem Swie King, para atlet binaan PB Djarum pun rela berkorban segalanya. Mulai dari kehilangan masa kecil dengan hidup jauh dari orang tua hingga waktu bermain yang dibatasi pun harus dijalani.

Seperti halnya yang dialami Calvin Kennedy Chandrawinata. Bocah kelahiran Pekanbaru, Riau, 13 Mei 2008 itu mengaku sudah setahun terakhir tinggal di PB Djarum, Kudus, Jawa Tengah (Jateng).

Selama tinggal di asrama PB Djarum, Calvin pun mengaku jarang bertemu dengan kedua orang tuanya. Kendati demikian, Calvin mengaku betah tinggal di asrama PB Djarum di Kalikutho, Kudus.

“Enggak mau. Di sini enak. Pelatihnya baik-baik, temannya juga baik-baik. Enggak kangen sama orang tua,” ujar Calvin di GOR Djarum, Jati, Kudus, Kamis (6/9/2018).

Calvin menuturkan selama tinggal di asrama dirinya mendapat pelatihan ekstra keras dari para trainer. Saban hari ia harus menjalani latihan selama lebih dari dua jam.

“Pekan pertama dan ketiga setiap bulannya, kita latihan dari pukul 07.00-09.00 WIB atau sebelum masuk sekolah. Kalau pekan kedua dan keempat, kita latihannya setelah pulang sekolah,” ujar siswa kelas V SD Kanisius Kudus itu.

 Tak hanya berlatih dengan intensitas tinggi. Selama tinggal di asrama, Calvin pun wajib menjaga pola makan. Ia dilarang makan yang rendah nutrisi dan siap saji, seperti hamburger maupun mi instan.

“Selain enggak boleh makan junk food, kita juga tidak boleh sering-sering mainan handphone [hp]. Kalau Senin-Jumat, boleh pegang hp hanya dua jam, hari Sabtu tiga jam, Minggu bebas,” tutur Calvin.

Kendati banyak larangan, Calvin mengaku kerasan tinggal di asrama. Hal itu dilakukan demi mewujudkan impiannya menjadi pebulu tangkis profesional.

“Saya ingin jadi seperti Lee Chong Wei. Saya mengidolakan dia, karena mainnya bagus,” tutur Calvin.

Salah seorang pelatih PB Djarum, Reni Ardianingrum, membenarkan aturan ketat yang diterapkan bagi para atlet binaan. Mulai dari pola makan, waktu bermain atau keluar asrama, hingga bertemu dengan sanak saudara, termasuk orang tua.

Aturan itu pun berlaku untuk seluruh atlet, tak peduli usia maupun jenis kelamin. Jika ketahuann melanggar, para atlet binaan itu pun akan menjalani hukuman fisik, hingga sanksi terberat dikeluarkan dari klub.

“Biasanya kalau ada yang ketahuan melanggar kita suruh squat jumps 20-50 kali. Kalau yang tidak menunjukkan kemajuan selama dua tahun, ya kami keluarkan. Di sini kami juga menerapkan sistem promosi degradasi,” ujar mantan dosen Universitas Tunas Pembangunan (UTP) Solo itu.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Tokopedia