Ambisi Raziq, Anak Buruh Cuci yang Ingin Jadi Penerus Jonatan Christie

Pebuolu tangkis muda asal Karanganyar, Raziq Ibnu Sabri, menunjukkan tiket lolos babak karantina Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulu Tangkis di GOR Djarum, Jati, Kudus, Minggu (9/9 - 2018). (Semarangpos.com/Imam Yuda S.)
11 September 2018 14:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, KUDUS — Raziq Ibnu Sabri tak kuasa menahan air matanya seusai membaca tulisan di secarik kertas yang tersimpan dalam sebuah amplop di GOR Djarum, Jati, Kudus, Minggu (9/9/2018). Padahal pada kertas itu tertulis kata-kata "Selamattina, Terus Berjuang!".

Kalimat itu menandakan bahwa Raziq menjadi salah satu kontestan yang lolos pada babak Final Audisi Djarum Beasiswa Bulu Tangkis 2018. Ia pun berhak melangkah ke babak karantina guna meraih beasiswa bulu tangkis.

Raziq pun tak menyangka bisa lolos dari babak audisi final. Oleh karenanya, bocah berusia 10 tahun asal Karanganyar itu pun tak kuasa menahan air matanya.

“Terharu aja. Enggak menyangka bisa lolos,” ujar Raziq saat dijumpai Semarangpos.com.

Raziq pantas bangga bisa lolos dari babak audisi di kelompok usia di bawah 11 tahun (U-11). Apalagi pada audisi sebelumnya, di Karanganyar, Agustus kemarin, dirinya gagal meraih Super Tiket.

Tiket ke babak audisi final diperoleh Raziq setelah menjalani seleksi di Kudus, awal September. Ia terpilih sebagai satu dari 38 peserta di Kudus yang berhak menjalani audisi final yang diikuti 219 kontestan dari 32 provinsi.

Di babak audisi final itu, kesuksesan Raziq berlanjut. Ia terpilih sebagai satu dari 50 peserta yang dinyatakan berhak menjalani tahap karantina.

Keberhasilan ini jelas tak disangka Raziq. Apalagi dirinya hanyalah seorang anak dari kalangan ekonomi kurang mampu dari Dukuh Karangsari, Dusun Kwarasan, Desa Gaum, Kecamatan Tasikmadu Karanganyar. Ibu Raziq, Nurcahyo, hanya seorang buruh cuci serabutan. Sementara sang ayah, Aris Siswanto, sudah lama meninggal dunia.

Meski berstatus sebagai anak yatim, Raziq tak minder. Ia terus berlatih di bawah binaan PB All Stars Karanganyar.

Raziq dan ibu, Nurcahyo, saat berada di GOR Djarum, Jati, Kudus, Minggu (9/9/2018). (Semarangpos.com-Imam Yuda S.)

“Suka aja dengan bulu tangkis. Penginnya sih jadi kayak Jojo [Jonatan Christie] atau Kevin Sanjaya yang berhasil meraih medali emas di Asian Games,” ujar Raziq.

Nurcahyo mengatakan anaknya memang berambisi besar menjadi pebulu tangkis profesional. Tekad itu bahkan sudah ditunjukkan Raziq sejak dua tahun terakhir.  Selama dua tahun terakhir, siswa SD Bejen 2 Karanganyar itu bahkan kerap mengikuti turnamen baik nasional maupun lokal. Salah satu prestasi terbaik Raziq adalah juara dua Kejurkab PBSI Wonogiri 2018.

“Sudah dua tahun ini latihan lebih giat. Latihannya enam kali sepekan, di PB All Stars sama private. Namanya, cita-cita asal positif saya dukung,” ujar Nurcahyo.

Nurcahyo mengaku untuk memenuhi kebutuhan anaknya berlatih bulu tangkis, dirinya pun harus bekerja lebih keras. Maklum, sebagai single parent dirinya menjadi satu-satunya penopang hidup keluarga untuk memenuhi kebutuhan Raziq dan kakaknya.

Pekerjaan apa pun dijalani Nurcahyo, mulai dari menjadi tukang cuci serabutan, asisten rumah tangga, baby sisters, hingga berjualan warung angkringan saat malam hari.

“Kalau malam saya jualan HIK [sebutan angkringan di Solo]. Jualannya dibantu kakaknya Raziq,” tutur Nurcahyo.

Raziq Ibnu Sabri saat tampil pada Final Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulu Tangkis di GOR Djarum, Jati, Kudus, Minggu (10/9/2018). (Semarangpos.com-Imam Yuda S.)

Nurcahyo mengaku setiap bulan menghabiskan uang tak kurang dari Rp500.000 untuk memenuhi kebutuhan Raziq berlatih. Biaya sebesar itu belum termasuk dana untuk Raziq mengikuti berbagai event kejuaraan di luar kota maupun perawatan peralatan badminton.

“Kadang kalau Raziq mau ikut audisi atau turnamen keluar kota, saudara-saudara saya banyak yang saweran atau patungan. Duitnya untuk biaya pengeluaran Raziq selama di luar kota dan klub,” beber perempuan berjilbab itu.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya