Investasi Industri Tumbuh, Jateng Masih Bergantung Impor

Aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Emas di Semarang, Jawa Tengah. (Antara/Aditya Pradana Putra)
11 September 2018 02:50 WIB Alif Nazzala Rizqi Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Banyaknya barang impor yang masuk ke dalam negeri menjadi salah satu penyebab tertekannya nilai tukar rupiah. Masuknya barang impor tersebut bukan semata-mata barang konsumsi, melainkan juga industri. Padahal, seiring tumbuhnya investasi dari luar negeri ke Jawa Tengah, barang kebutuhan industri meningkat.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menuturkan, seiring tumbuhnya investasi dari luar negeri di provinsi ini, maka barang kebutuhan industri pun meningkat. Sebagian besar barang kebutuhan investor ke Jateng, diakuinya belum bisa diproduksi di dalam negeri, sehingga mau tidak mau mereka harus impor.

“Kenapa ya impor kita tinggi sekali? Karena banyak industri pindah ke Jawa Tengah. Belanja modal mereka tinggi sekali. Termasuk kita belum punya bahan baku. Sehingga mesin kan pasti impor. Mana bisa kita buat sendiri. Akhirnya itu gedhe banget. Kalau saya, suka tidak suka, mau tidak mau, neraca kita negatif ketika semua (industri) masuk ke sini,” tuturnya, Minggu (9/9/2018).

Ganjar menyebutkan contoh beberapa bahan baku industri yang masih harus diimpor adalah kimia dasar, logam dasar dan farmasi. Meski ada dampak negatif atas masuknya investasi dari luar negeri, yang perlu menjadi catatan, masuknya investasi ini memiliki multiplier effect. Salah satunya penyerapan tenaga kerja yang tinggi.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Jateng, Frans Kongi menambahkan. Komoditi garam industri banyak dibutuhkan, namun Indonesia belum bisa memenuhi standar kualifikasi. Akhirnya, industri memenuhi kebutuhi garamnya dengan mengimpor.

“Garam industri kita masih impor. Saya punya anggota (produsen garam) di Rembang, Pati yang pernah menyampaikan kepada saya untuk menggunakan garam mereka di industri. Tapi di industri itu komposisi atau kadar-kadar tertentu kurang,” ungkap dia.

Untuk investasi pabrik garam, lanjutnya, juga butuh modal yang besar. Maka dia mengangankan suatu saat BUMN bisa mendirikan pabrik garam dengan teknologi dari negara yang selama ini menjadi sumber impor garam, yakni Italia dan China.

“Kalau BUMN bisa bikin satu pabrik garam yang pakai teknologi Italia atau China, mereka kan pengalaman. Kita masih impor dari mereka. Kita mau tidak mau mesti undang mereka sebagai tenaga ahli,” kata dia.

Mengundang tenaga ahli, imbuh dia, bertujuan untuk menransfer ilmu. Sehingga, perlu ditetapkan tenggang waktu tertentu sampai SDM dari Indonesia bisa menerapkannya.

“Orang asing masih perlu supaya dia bisa membantu kita memperlancar produksi. Tapi kita juga tidak mau pakai dia lama-lama. Dua tahun paling lama. Maka SDM dalam negeri, dua tahun harus bisa menerapkan ilmunya,” jelasnya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Bisnis