Kebakaran Hutan, BPBD Jateng Andalkan Pawang Hujan

Kalakhar BPBD Jateng, Sarwa Pramana, di Hotel Patra, Semarang, Rabu (12/9 - 2018). (Semarangpos.com/Imam Yuda S.)
12 September 2018 20:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah (Jateng) akan minta bantuan kearifan lokal untuk mengatasi kebakaran hutan di lereng Gunung Sumbing, Gunung Sindoro, dan Gunung Lawu. Kearifan lokal yang dimaksud itu tak lain adalah para pawang hujan.

Hal itu disampaikan Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Jateng, Sarwa Pramana, saat dijumpai wartawan seusai menghadiri Rapat Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkominda) di Hotel Patra, Semarang, Rabu (12/9/2018).

Sarwa mengaku pihaknya kewalahan mengatasi kebakaran hutan yang terjadi di lereng Gunung Lawu, Gunung Sindoro, dan Gunung Sumbing. Hal itu dikarenakan sejak terjadinya kebakaran beberapa hari lalu, hingga kini api belum mereda dan justru kian meluas.

Total asa sekitar 542 hektare wilayah hutan di lereng Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing yang saat ini dilanda kebakaran. Sedangkan, di lereng Gunung Lawu hanya sekitar 5,5 hektare.

 “Saya sudah perintahkan kalak [kepala pelaksana] BPBD di empat kabupaten [Magelang, Temanggung, Wonosobo, Karanganyar] untuk coba menggunakan kearifan lokal, menghadirkan pawang hujan,” ujar Sarwa.

Sarwa mengaku langkah menggunakan pawang hujan memang perlu dilakukan. Hal itu dikarenakan segala cara untuk memadamkan api yang terus menjalar itu sulit dilakukan, seperti water bombing maupun membuat hujan buatan.

Water bombing sulit dilakukan karena di lokasi sekitar tidak ada kanal untuk mengambil air. Selain itu, lokasi [area yang terbakar] juga sulit dilalui pesawat,” ujar Sarwa.

Sementara terkait hujan buatan, Sarwa juga menilai akan sulit dilakukan dan berpotensi tidak efektif. Hal itu dikarenakan hujan buatan membutuhkan awan yang stabil.

“Hujan buatan kan tergantung awan dan anginnya. Kalau sudah dibikin enggak tahunya awannya terbawa angin kan justru enggak tepat sasaran. Padahal, untuk membuat hujan buatan menelan biaya yang tidak sedikit,” beber Sarwa.

Sarwa menyebutkan penggunaan pawang hujan untuk mengatasi bencana kebakaran hutan pernah dilakukan di Pekanbaru, Riau, beberapa waktu lalu. Cara tersebut terbilang cukup berhasil.

“Waktu itu kita kirim pawang hujan ke Riau atas permintaan BNPB. Ternyata, itu cukup berhasil. Sebagian besar bisa padam,” terang Sarwa.

Sementara itu, Kalakhar BPBD Kabupaten Magelang, Edy Susanto, menyebutkan saat ini kebakaran hutan telah meluas ke lereng gunung Sumbing di wilayahnya. Hingga Rabu pagi, api bahkan telah merambat ke petak 2 Magelang atau pos 4 pendakian Kaliangkrik, Desa Butuh, Desa Mangli, dan Desa Prampelan.

“Ada sekitar 5,5 hektare hutan di wilayah Magelang yang terbakar. Saat ini masih ditangani dengan melibatkan ratusan personel gabungan dari BPBD, TNI, Polri, sukarelawan, damkar, Perhutani, dan warga,” ujar Edy.

Edy berharap kebakaran hutan itu tak semakin meluas hingga berdampak pada permukiman warga.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Tokopedia