Dituduh Plagiat dan Diintimidasi, Guru Besar Udinus Tantang Rektor Unnes Debat Publik

Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang, Prof. Supriadi Rustad. (Istimewa/Humas Udinus Semarang)
13 September 2018 07:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes) Fathur Rokhman tak henti mencari perhatian publik dengan bertingkah kontroversial. Setelah sebelumnya ramai diberitakan sebagai plagiator, kini ia balik menuduh orang lain mencontek mentah-mentah karya ilmiah.

Tingkah kontroversial orang paling dipilih oleh para akademisi Universitas Negeri Semarang (Unnes) itu sampai-sampai membuat Guru besar Univesitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang, Prof. Supriadi Rustad geram. Ia pun menantang guru besar Unnes tersebut tampil bareng dalam sebuah debat di hadapan publik.

Tantangan itu dilontarkan Supriadi melalui blog pribadinya yang beralamat di supriadirustad.wordpress.com, Selasa (11/8/2018). Di blog tersebut, pria yang juga menjabat sebagai wakil rektor I bidang akademik Udinus juga menyebutkan alasan menantang rektor Unnes untuk beradu argumen di depan publik.

“Ajakan debat itu saya lontarkan dalam konteks dugaan plagiat atas nama Supriadi Rustad yang dituduhkan oleh FR [Fathur Rokhma]. Enggak ada ketertarikan [atas kasus] yang lain. Saya ingin data dugaan plagiat SR dikuliti habis [dibahas tuntas] oleh FR di ruang publik,” ujar Supriadi kepada Semarangpos.com, Rabu (12/9/2018).

Dalam blog pribadinya, Supriadi menulis bahwa dirinya bukan hanya dianggap plagiat. Dirinya juga dituding menjadi pemilik media serat.id yang menulis tentang dugaan plagiat yang dilakukan rektor Unnes tersebut.

Serat.id yang merupakan media rintisan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Semarang beberapa waktu lalu memberitakan dugaan plagiat yang dilakukan rektor Unnes itu. Dugaan plagiat itu mencuat setelah karya tulis Fatur Rokhman yang diterbitkan Jurnal Litera Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada 2004, sama persis dengan makalah alumnus Unnes, Anif Rida, dalam prosiding Konferensi Linguistik Tahunan Atma Jaya (Kolita) 1 Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta 2003.

“Konon kesimpulan itu diperoleh berdasar informasi sang senior [Fathur Rokhman] yang telah berkoordinasi dengan Polda. Meski baru di kemudian hari saya menyadari bahwa alamat media itu di Jl. Nakula [sama dengan kampus Udinus]. Namun, saya menyatakan hingga kini belum tahu lokasi persisnya, apalagi bertemu dengan jajaran pengurus media itu,” tulis Supriadi dalam blog pribadinya.

Selain dituduh plagiat, Supriadi juga mengaku mendapat intimidasi dari rektor Unnes. Intimidasi itu bahkan disampaikan melalui istri dan anaknya yang juga menjabat sebagai dosen di Fakultas Bahasa dan Sastra Unnes. Intimidasi kepada sang istri, lanjut Supriadi, disampaikan utusan Fathur Rokhman saat dirinya tengah di Prancis, pada 1 Juli 2018.

Sedangkan tuduhan kedua disampaikan Fathur kepada anak kedua di kampus Unnes, Jumat (7/9/2018). Kepada anak perempuan Supriadi itu, rektor Unnes mengaku akan melaporkan ayahnya ke polisi atas tuduhan plagiasi.

“Saya menilai cara-cara yang ditempuh rektor dalam membangun komunikasi dengan dosen pada kasus ini sungguh di luar kelaziman dan keadaban. Anak itu dijemput dan diantar seorang pejabat layaknya tahanan. Tema pertemuan pun dipenuhi intimidasi terutama tentang dosa-dosa bapaknya yang sama sekali tidak berkaitan dengan tugasnya sebagai dosen,” imbuh Supriadi.

Tak cukup sampai di situ, Supriadi juga mengaku bahwa Fathur Rokman bersama seorang pejabat Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) mendatangi kampus Udinus. Fathur Rokman mengadu kepada rektor Udinus agar menasihati Supriadi untuk berhenti menulis dan mengunggah tulisan di laman resmi kampus tersebut.

“Melalui tulisan itu, dengan segala kerendahan hati, saya SR [Supriadi Rustad] mengundang FR [Fathur Rokhman] untuk bertemu secara langsung di sebuah forum diskusi ilmiah tanpa harus menggunakan cara intimidasi, baik kepada kepada anggota keluarga maupun intervensi kepada otonomi kampus. Mari kita teladani para pendahulu kita dalam menyelesaikan persoalan dengan cara lebih berbudaya di ruang diskusi, bukan di kantor polisi. Bila nanti terbukti bersalah, insyaallah saya akan dengan suka rela menyerahkan diri untuk dihukum oleh menteri,” terang Supriadi.

Perselisihan antara Supriadi dan Fathur sebenar bukan yang kali pertama terjadi. Kedua guru besar ini bahkan sempat bersaing pada Pemilihan Rektor Unnes 2014 silam. Namun, Supriadi kala itu akhirnya memilih mundur dari pencalonan dan juga dosen PNS aktif di Unnes. Ia mundur setelah dilaporkan ke polisi oleh beberapa dosen Unnes yang berseberangan dengan tuduhan memberikan keterangan palsu untuk mencalonkan diri sebagai rektor.

Supriadi sempat melaporkan balik pengadunya ke Mapolrestabes Semarang. Namun, akhirnya pria yang sempat menjabat sebagai ketua Tim Evaluasi Evaluasi Kinerja Akademik (EKA) Kemenristekdikti itu pun mencabut laporannya dan memilih mundur dari pencalonan sebagai rektor Unnes.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya