Rektor Unnes Enggan Ladeni Tantangan Guru Besar Udinus

Rektor Unnes Prof. Fathur Rokhman. (Youtube.com)
13 September 2018 11:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes), Prof. Fathur Rokhman, enggan meladeni tantangan guru besar Univesitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang, Prof. Supriadi Rustad untuk berdebat ilmiah di hadapan publik.

Guru besar Unnes yang tengah didera isu dugaan plagiat itu mengaku tantangan debat yang dilontarkan mantan rivalnya pada Pemilihan Rektor Unnes periode 2014-2018 itu.

“Tantangan semacam itu kita sikapi positif. Dari substansi ilmiah debat itu bagus. Tapi harus memenuhi tiga aspek, yakni aspek ontologi atau konseptual, estimologi atau dari mana ilmu itu didapat, dan aksiologi atau kemanfaatannya. Jadi kita terbuka dengan berbagai debat. Kalau dalam karya ilmiah kita senang, tapi kalau karena aspek emosi, tuduhan enggak perlu diperdebatkan,” ujar Fathur kepada wartawan seusai acara wisuda di kampus Unnes, Semarang, Rabu (12/9/2018).

Fathur menambahkan terkait tuduhan sudah merupakan ranah hukum sehingga tidak perlu diperdebatkan. Sehingga, ia pun tak mau meladeni tantangan berdebat dalam diskusi publik yang dilontarkan Prof. Supriadi Rustad.

“Kita sikapi dengan bijak saja atau wisdom. Kalau kita ditantang itu justru mendapat berkah. Tantangan adalah cara Allah untuk memuliakan kita. Jangan takut apabila ditantang, pasti ada hikmahnya,” ujar Fathur Rokhman.

Supriadi menantang Fathur Rokhman dalam debat publik. Tantangan itu dilontarkan Supriadi dalam blog pribadinya di supriadirustad.wordpress.com, Selasa (11/8/2018).

Kepada Semarangpos.com, mantan guru besar Unnes yang saat ini menjabat sebagai wakil rektor bidang akademik Udinus itu mengaku tantangan itu dilontarkan setelah dirinya dituduh melakukan plagiat oleh Fathur Rokhman.

Tidak dijelaskan plagiat apa yang dilakukan Supriadi. Meski demikian, Supriadi mengaku bahwa tuduhan itu disampaikan kepada istri dan anak keduanya yang saat ini berstatus sebagai dosen di Unnes. Ia menilai apa yang dilakukan Fathur Rokman merupakan bentuk intimidasi kepada keluarganya, terutama anaknya yang berprofesi sebagai pengajar di Unnes.

“Dengan segala kerendahan hati, saya SR [Supriadi Rustad] mengundang FR [Fathur Rokhman] untuk bertemu secara langsung di sebuah forum diskusi ilmiah tanpa harus menggunakan cara intimidasi, baik kepada kepada anggota keluarga maupun intervensi kepada otonomi kampus. Mari kita teladani para pendahulu kita dalam menyelesaikan persoalan dengan cara lebih berbudaya di ruang diskusi, bukan di kantor polisi. Bila nanti terbukti bersalah, insyaallah saya akan dengan suka rela menyerahkan diri untuk dihukum oleh menteri,” terang Supriadi.

Tuduhan plagiat terhadap Supriadi ini mencuat di tengah isu plagiat yang dilakukan Fathur Rokhman yang saat ini kembali mencalonkan diri pada Pemilihan Rektor Unnes periode 2018-2022.

Fathur Rokhman diduga melakukan plagiat karena karyanya berjudul Kode Bahasa dalam Interaksi Sosial Santri: Kajian Sosiolinguistik di Pesantren Banyumas yang diterbitkan Jurnal Litera Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada 2004 mirip dengan karya milik Anif Rida berjudul Pemakaian Kode Bahasa dalam Interaksi Sosial, Santri, dan Implikasinya bagi Rekayasa Bahasa Indonesia: Kajian Sosiolinguistik di Pesantren Banyumas yang diterbitkan Konferensi Linguistik Tahunan Atma Jaya (Kolita) I pada 2003.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya