Petani Tembakau Tolak Pawang Hujan, Water Bombing Jadi Solusi

Kebakaran kawasan hutan Gunung Sumbing di Kabupaten Temanggung, Jateng terlihat dari Kota Temanggung seperti barisan obor dari bawah menuju puncak. (Antara/Heru Suyitno)
13 September 2018 16:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Rencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah (Jateng) menggandeng pawang hujan untuk memadamkan kebakaran hutan di lereng Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro terancam batal.

Hal itu menyusul penolakan dari para petani tembakau yang berada di lereng Gunung Sindoro dan Sumbing, Kabupaten Tembakau.

Sekretaris DPD Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jateng, Yuda Sudarmaji, menolak digunakannya pawang hujan untuk memadamkan kebakaran hutan. Penggunaan pawang hujan bisa berdampak buruk bagi petani yang saat ini tengah menjemur tembakau.

“Penggunaan pawang hujan itu seperti buah simalakama. Tidak baik buat petani yang saat ini tengah menjemur tembakau. Kalau terkena hujan, kualitas tembakau bisa menurun dan mempengaruhi harga. Maka itu kami tidak mau ada pawang hujan,” ujar Yuda saat dihubungi Semarangpos.com, Kamis (13/9/2018).

Penolakan petani tembakau ini pun membuat BPBD harus menggunakan strategi lain untuk memadamkan kebakaran hutan di lereng Gunung Sindoro dan Sumbing. Salah satu strategi itu yakni dengan menerjunkan peralatan water bombing,  helikopter.

“Water bombing akan menjadi solusi kami memadamkan api, selain pawang hujan,” ujar Pelaksana tugas (Plt.) Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Kabupaten Temanggung, Gito Walngadi.

Gito mengaku saat ini pihaknya telah berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk pengiriman helikopter water bombing.

“Ini helikopternya masih di Jakarta, secepatnya akan datang ke sini untuk mengatasi kebakaran hutan,” tutur Gito.

Sebelumnya, Kalakhar BPBD Jateng, Sarwa Pramana, seusai Rapat Forkominda Jateng di Hotel Patra, Semarang, Rabu (12/9/2018), menyebutkan akan meminta kalakhar BPBD di empat kabupaten yang terdampak kebakaran hutan menggunakan pawang hujan. Hal itu dikarenakan pemadaman api sulit dilakukan dengan water bombing menyusul tidak adanya kanal air di sekitar lokasi kebakaran.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya