12 Tahun Mangkrak, BPH Migas Evaluasi Proyek Pipa Gas Cirebon-Semarang

Pekerja menggarap pemasangan pipa gas untuk disalurkan ke permukiman. (Antara)
15 September 2018 16:50 WIB Denis Riantiza Meilanova Semarang Share :

Semarangpos.com, BANJARBARU — Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mengevaluasi kembali keekonomian proyek pipa gas Cirebon-Semarang. Proyek 2006 itu telah mangkrak selama 12 tahun karena kendala pasok gas.

Kisahnya, tender proyek tersebut dimenangi PT Rekayasa Industri (Rekind) sejak 2006. Nyatanya, setelah 12 tahun berlalu, belum ada perkembangan berarti atas proyek pipa gas sepanjang 682 km tersebut. Konon, mangkraknya proyek itu dipicu kendal pasokan gas dan pembeli.

Anggota Komite BPH Migas Jugi Prajogio mengatakan pihaknya sedang memfinalisasi penghitungan ulang keekonomian proyek pipa gas Cirebon-Semarang. Dia menyebutkan sejumlah parameter, seperti panjang pipa, ketersediaan pasokan gas dan calon pembeli gas, telah banyak mengalami perubahan dari estimasi awal.

Dengan sejumlah parameter tersebut maka ketentuan yang tercantum dalam kesepakatan awal dengan Rekind perlu divalidasi ulang sehingga tercapai keekonomiannya. “Sekarang ini prosesnya BPH Migas dan Rekind sedang validasi angkanya lagi, supaya bisa maju ke Wamen [Wakil Menteri ESDM] untuk dicek kembali,” ujarnya di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Kamis (13/9/2018).

Apabila hasil validasi tersebut masuk akal dan disetujui oleh Kementerian ESDM, terang Jugi, maka proyek pipa Cirebon-Semarang tidak akan lama lagi dapat segera memulai kontruksinya (groundbreaking). “Harapannya kalau Rekind tidak akan lebih dari tahun ini,” katanya.

Sebelumnya, Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Fanshurullah Asa mengatakan pihaknya telah beberapa kali memanggil Rekind untuk menagih komitmen keduanya dalam membangun proyek tersebut. Bahkan BPH Migas telah memberikan ultimatum kepada Rekind terkait hal ini dan memberikan waktu hingga Juli 2018 untuk segera melakukan groundbreaking.

Rekind disebutnya telah melakukan pertemuan dengan BUMD di Jawa Barat dan Jawa Tengah, serta telah sepakat bekerjasama dengan PT Pertamina Gas (Pertagas). Dia menuturkan bila Rekind tidak melaksanakan komitmen pembangunan pada pertengahan tahun ini, BPH Migas tidak segan memutuskan untuk melelang ulang atau menunjuk badan usaha lainnya untuk menggarap proyek pipa Cirebon-Semarang.

Selain proyek pipa Cirebon-Semarang, BPH Migas juga melakukan validasi ulang untuk proyek jalur pipa gas transmisi Kalimantan-Jawa (Kalija) II. Akhirnya disepakati proyek yang akan dibangun oleh PT Bakrie & Brothers Tbk. tersebut rencananya membentang dari Bontang, Kalimantan Timur sampai Takisung, Kalimantan Selatan atau sampai lokasi akhir konsumen gas. Semula proyek ini direncanakan akan menghubungkan Kalimantan dan Pulau Jawa.

Sejak dilelang dan dimenangi Bakrie & Brothers sejak 2007, pembangunan proyek tersebut hingga sekarang mangkrak karena terkendala pasokan gas dan pembeli. Untuk mensiasatinya, pihaknya memutuskan untuk mengubah rencana pembangunan menjadi Trans Kalimantan.

Berdasarkan perkiraan awal, kapasitas gas proyek tersebut sekitar 100—130 MMscfd dengan panjang pipa 250 km. Terdapat dua pelanggan potensial di Kalimantan Selatan, yakni Kawasan Industri Batulicin dan Kawasan Industri Jorong, yang masuk dalam proyek strategis nasional.

Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Selatan Abdul Haris mengatakan, pihaknya sangat mendukung proyek tersebut. “Tentu ini akan membuka peluang investasi yang cukup besar, jadi butuh dukungan kita bersama. Investasi ini untuk pembangunan di Kalsel.”

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Tokopedia

Sumber : Bisnis