Rawat Kucing Liar, Sejumlah Perempuan di Semarang Bentuk Lingkar Kucing

Resla Aknaita Chak (kanan) tengah memungut kucing liar yang ditemui di Pasar Bulu, Kota Semarang, beberapa waktu lalu. (Istimewa/Lingkar Kucing)
25 September 2018 09:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Toples kecil berisi butiran-butiran biskuit beraroma ikan itu selalu ada di dalam tas milik Resla Aknaita Chak. Perempuan bertubuh mungil asal Gunungpati, Kota Semarang itu pun selalu mengeluarkan isi di dalam toples itu tatkala menemui kucing-kucing liar di jalan

Seperti yang dilakukannya di kawasan Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang, Jumat (21//9/2018). Ia mengeluarkan benda yang ada dalam toples itu dan membagikannya kepada kucing yang dijumpai.

Benda itu tak lain adalah biskuit berbentuk bulat dan berukuran kecil yang memiliki aroma ikan. Sontak, begitu biskuit itu ditabur Resla, beberapa ekor kucing pun langsung menghampiri dan makan dengan lahap.

Resla bukanlah satu-satunya perempuan yang kerap memberi makan kucing di jalanan Kota Semarang. Selain Resla, ada juga Anindya Putri dan Dini Failasufa. Tak hanya memberi makan, tiga perempuan yang masih berstatus lajang itu juga kerap merawat dan menampung kucing liar yang terluka.

Berawal dari rasa kasihan terhadap kucing liar itulah, tiga dara manis itu membentuk sebuah komunitas yang diberi nama Lingkar Kucing. Resla berharap komunitas itu bisa menjadi gerakan awal untuk menyelamatkan kucing-kucing liar, khususnya di Kota Semarang.

“Selama ini kami merasa iba melihat kucing liar yang diterlantarkan pemiliknya. Malahan banyak kucing yang terluka, entah baru saja berkelahi atau dilukai sama orang yang tak bertanggung jawab,” ujar Resla saat berbincang dengan Semarangpos.com, Jumat.

Resla mengaku demi memberi makan dan merawat kucing liar, dirinya dan dua temannya rela merogoh kocek sedalam-dalamnya. Apalagi, saat ini ada sekitar 20an kucing liar yang ditampung di rumahnya yang terletak di Kampung Kuwasen Rejo RT 004/RW 004, Pongangan, Gunungpati, Semarang.

Selain merawat di rumah, Resla juga kerap membawa kucing-kucing liar yang terlantar untuk di rawat di kantornya yang terletak di kawasan Kota Lama Semarang. Hingga saat ini, ada belasan ekor kucing yang ditampung di kantor alumnus Universitas Negeri Semarang (Unnes) itu.

“Saat sore balik ke kantor, saya bawa satu ekor. Setelah dipikir-pikir enggak ada salahnya dirawat di kantor. Akhirnya, sekarang ada belasan ekor yang ditampung di kantor,” ujar Resla.

Tak hanya itu saja. Resla mengaku bilang ada kucing yang butuh perawatan karena terluka, ia pun rela membawa ke klinik hewan. Setiap mengobati kucing jalanan, tak jarang ia harus menguras tabungannya.

“Ada yang Rp60.000 setiap berobat. Bahkan, ada yang sampai Rp300.000,” tuturnya.

Untuk menyiasati kebutuhan merawat kucing liar itu, Resla dan dua rekannya mencoba untuk menggalang dana melalui website kitabisa.com mulai 22 Agustus-22 Oktober 2018.

Ia berharap apa yang ia lakukan bisa menginspirasi warga lainnya untuk menghentikan perilaku menelantarkan dan menyakiti hewan, yang tidak pantas dilakukan manusia. “Kita mahkluk yang diberi kelebihan sudah sepantasnya saling mengasihani. Bukan saling menyakiti,” ujar Resla.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya