Ritual Minta Hujan Dikemas dalam Pesta Rakyat di Banjarnegara

Ilustrasi Festival Ujungan di Banjarnegara. (Istimewa/jatengprov.go.id)
28 September 2018 12:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Musim kemarau panjang yang melanda sejumlah wilayah di Jawa Tengah (Jateng) membuat warga di Banjarnegara menggelar sebuah ritual minta hujan. Ritual itu dikemas dalam sebuah pesta rakyat bertajuk Festival Ujungan di Desa Kemranggon, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara, Jumat (28/9/2018).

Dikutip laman Internet resmi Pemprov Jateng, kesenian Ujungan merupakan tradisi minta hujan yang dilakukan melalui ritual adu pukul menggunakan bilah rotan. Tradisi ini menurut kepercayaan warga lokal merupakan warisan Kerajaan Majapahit.

Salah seorang panitia Festival Ujungan 2018, Yusmanto M. Sen, mengatakan Festival Ujungan merupakan wujud pelestarian budaya sekaligus promosi wisata yang dilakukan Desa Kemranggon. Berbagai suguhan menarik telah disiapkan untuk memeriahkan event tersebut.

“Dari Festival Kenthongan, pertunjukan musik keroncong, sulap, tari kreasi, modelling, lomba mewarnai, lomba melukis, pemutaran film lokal, hingga senam aerobik dan musik dangdut,” ujar Yusmanto dikutip laman Internet resmi Pemprov Jateng, Kamis (27/9/2018).

Camat Susukan, Susanto, mengatakan berbagai acara telah digelar untuk menyambut Festival Ujungan. Mulai dari ritual pengambilan air berkah di sumber pemandian ari panas Pingit, Gumele Wetan, oleh sesepuh desa dengan diiringin warga dan bunga desa dari 15 desa hingga tradisi takiran yang merupakan acara syukuran dan makan bersama.

Selain itu, sebelum Festival Ujungan digelar warga juga menggelar ritual cowongan, yang merupakan tradisi meminta air hujan dengan menggunakan gayung tradisional dan orang-orangan sawah yang mirip boneka jalangkung, terbuat dari rumput.

Seusai ritual cowongan, acara lalu dilanjutkan dengan acara Tundhan Belis, yang merupakan pertunjukkan musik dengan menggunakan alat dapur. Konon, musik ini biasa dimainkan untuk mencari warga yang hilang karena dibawa mahkluk halus yang disebut kelong, lampor, wewe gombel atau sebagainya.

“Festival dipusatkan di Lapangan Desa Kemranggon. Puncaknya digelar pada Jumat, 28 September pukul 13.00-17.00 WIB. Puncak acara yakni ritual Ujungan yang merupakan ritual minta hujan dengan cara adu pukul menggunakan bilah rotan,” terang Susanto.

Susanto menambahkan ritual Ujungan akan diikuti perwakilan dari seluruh desa di Kecamatan Susukan. Ritual adu pukul dengan rotan itu akan dipimpin seorang wasit yang disebut wlandong.

Meski terkesan mistis, Festival Ujungan diyakini tetap memberikan hiburan yang atraktif. Hal itu dikarenakan setelah ritual adu pukul dengan rotan selesai, pesta rakyat itu akan dilanjutkan dengan pertunjukan seni tari dan musik.

Bukan hanya itu, Sabtu (29/9/2018), Festival Ujungan akan dilanjutkan dengan acara ruwat bumi dan pergelaran wayang kulit dengan dalang Ki Pepeng mengambil lakon Lahirnya Gatotkaca. Sedangkan Minggu (30/9/2018), festival minta air hujan itu akan dilanjutkan dengan acara gropyok iwak, sepeda santai, dan memancing, serta pesta kembang api.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya