Dana Bagi Hasil Cukai Rokok untuk BPJS, Begini Reaksi Petani Tembakau Jateng

Ilustrasi petani tembakau. (Solopos)
30 September 2018 14:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Pemerintah berencana menggunakan dana bagi hasil cukai rokok untuk menambal defisit Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Terkait hal itu, Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jawa Tengah (Jateng) tak akan mempermasalahkan.

Ketua APTI Jateng, Wisnu Brata, justru menilai dengan digunakannya dana bagi hasil cukai tembakau akan membuat petani tembakau dan perokok sebagai pahlawan kesehatan. Padahal, selama ini petani tembakau dan perokok kerap dituding menjadi biang permasalahan kesehatan di Indonesia.

“Kami enggak akan keberatan kalau dana bagi hasil cukai tembakau digunakan untuk menutupi defisit BPJS. Berarti perokok dan petani tembakau adalah pahlawan kesehatan. Mereka turut memberikan bantuan untuk dana kesehatan,” ujar Wisnu kepada Semarangpos.com, Rabu (26/9/2018).

Kendati demikian, Wisnu berharap komposisi dana bagi hasil cukai tembakau yang diberikan untuk bantuan kesehatan itu tidak lebih besar dibanding yang diberikan untuk peningkatan produksi petani. Selama ini, petani tembakau di Jateng memperoleh dana bagi hasil cukai tembakau mencapai Rp41 miliar. Dana sebesar itu digunakan untuk pemberdayaan, pelatihan, pemberian bantuan ternak dan program lain kepada para petani tembakau dan keluarganya.

“Kabarnya tahun depan naik,” imbuh Wisnu.

Wisnu juga berharap ke depan pemerintah lebih fokus memperjuangkan aspirasi petani tembakau. Saat ini, petani tembakau diliputi perasaan waswas karena produksi pertaniannya tak diserap secara maksimal industri rokok, menyusul masuknya tembakau dari luar negeri atau impor.

“Kami melihat pemerintah belum maksimal memperjuangkan petani tembakau. Permendag No.84/2017 tentang Impor Tembakau belum dijalankan dengan baik. Masih banyak tembakau impor yang masuk dalam jumlah besar. Bahkan, ada beberapa industri rokok yang lebih senang menggunakan tembakau impor dibanding tembakau lokal,” terang Wisnu.

Wisnu memastikan kualitas tembakau lokal tahun ini sangat bagus. Hal itu tak terlepas dari kondisi cuaca, musim kemarau yang panjang sehingga produksi petani cukup melimpah.

“Tahun lalu, cuacanya majemuk dan banyak hujan sehingga kualitas tembakau kurang bagus. Tahun ini, musim kemarau cukup panjang, jadi kualitasnya tembakau petani bisa bagus. Kalau produksinya enggak akan jauh dibanding musim lalu, sekitar 30.000 ton dari 20.000 hektare lahan tembakau yang ada di Jateng,” jelas Wisnu.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya