Kisah Dokter Ambulans Motor Semarang yang Layani Ibu Hamil hingga Kesurupan

Dua pekerja medis, dr. Nurul Afifah (kanan) dan Dwi Utami, tengah bersiap mendapati rumah warga dengan menggunakan ambulans sepeda motor di kompleks GOR Tri Lomba Juang, Semarang, Jumat (28/9 - 2018). (Semarangpos.com/Imam Yuda S.)
30 September 2018 18:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Cuaca panas dan terik yang menyinari Kota Semarang seakan tak menyurutkan niat Nurul Afifah. Dara berusia 28 tahun itu terus memacu sepeda motornya, berusaha menembus kepadatan lalu lintas untuk mendatangi rumah warga yang membutuhkan bantuan medis dengan segera.

Nurul merupakan satu dari 10 dokter yang memberikan layanan kesehatan Ambulance Hebat Sepeda Motor. Setiap hari, ia ditemani satu orang tenaga medis untuk melayani panggilan warga yang membutuhkan pelayanan medis secara krusial.

“Ambulans dengan sepeda motor ini digunakan untuk mendatangi warga, yang rumahnya sulit dijangkau mobil. Kalau dengan motor kan lebih cepat, sehingga warga yang membutuhkan bantuan bisa cepat terlayani,” ujar Nurul saat dijumpai Semarangpos.com di Kantor Ambulance Hebat, kompleks GOR Tri Lomba Juang, Kota Semarang, Jumat (28/7/2018).

Dengan mengendarai ambulans motor, Nurul mengaku banyak tantangan yang harus dihadapi. Tak hanya menembus kepadatan lalu lintas Kota Semarang, ia juga harus melewati medan terjal, mulai dari gang sempit, hingga jalanan menanjak, terutama yang berada di kawasan Gunung Brintik.

Tak jarang, ia kerap tersesat saat mencari rumah pasien yang berada di gang-gang sempit. Bahkan, ketakutan seringkali menghampiri perempuan asal Kendal itu saat mendapat panggilan pada tengah malam.

 “Sempat sih ada perasaan takut saat malam hari. Takut ada begal atau semacamnya. Tapi biasanya saat sudah menghidupkan sirene, ada sukarelawan yang datang mengawal. Jadi enggak takut lagi,” tutur Nurul.

Nurul mengaku mendapat banyak pengalaman berharga selama menjalani tugas sebagai tenaga medis ambulans. Ia menjadi lebih peduli dengan sesama dan juga keluarga.

“Pernah suatu ketika mendapat pasien tuna wisma. Orangnya sudah tua. Di situ saya merasa iba dan enggak mau orang tua saya kelak seperti itu. Maka itu saya enggak mau mengabaikan orang tua,” tutur Nurul.

Selama melakoni tugas sebagai pekerja medis ambulans sepeda motor, Nurul mengaku mendapat bermacam keluhan kesehatan dari warga. Tak hanya keluhan yang bisa ditangani secara medis, seperti kecelakaan maupun ibu melahirkan, ia juga pernah mendapat kasus orang kesurupan.

 “Pernah ada yang minta bantuan, katanya menderita kejang-kejang. Enggak tahunya seperti gejala kesurupan. Ya tetap kita layani, di sana kita bantu-bantu doa,” ujar Nurul sambil tertawa.

Dua tenaga medis ambulans sepeda motor Kota Semarang, dr. Nurul Afifah, dan Dwi Utami, bersiap melayani warga di GOR Tri Lomba Juang, Jumat (28/9/2018). (Semarangpos.com-Imam Yuda S.)

Non-ASN

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang, Widoyono, mengatakan Ambulance Hebat Sepeda Motor merupakan layanan kesehatan terbaru untuk warga. Layanan kesehatan ini diluncurkan Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, pada 18 Juli 2018.

“Dengan ambulans motor ini diharapkan bisa mempercepat mobilitas pelayanan kesehatan kepada warga,” ujar Widoyono.

Widoyono mengatakan saat ini permintaan layanan kesehatan dengan ambulans di Kota Semarang semakin meningkat. Pada bulan Juli lalu, layanan ambulans Kota Semarang mencapai 371, jumlah itu naik pada Agustus menjadi 411 dan 428 pada September ini.

Naiknya permintaan layanan ambulans ini pun menjadi tantangan bagi Dinkes Kota Semarang. Terlebih lagi, saat ini jumlah dokter ambulans masih terbilang minim, yakni 10 orang, yang dibantu 25 tenaga kesehatan.

“Kami dulu pernah buka lowongan untuk dokter ambulans, sebanyak 25 orang. Tapi, yang berminat cuma 10 orang. Mereka [dokter] kami pekerjakan sebagai pegawai non-ASN [aparatur sipil negara] dengan gaji sekitar Rp7 juta per bulan,” terang Widoyono.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya