Peternak Ayam Jateng Keluhkan Mahalnya Jagung

Buruh tani memindahkan jagung ke dalam bak truk seusai dipetik di area pertanian. (Antara/Prasetia Fauzani)
02 Oktober 2018 22:50 WIB Alif Nazzala Rizqi Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Persaingan dalam perebutan jagung antara pabrikan pakan ternak dan peternak ayam membuat bahan utama campuran pakan unggas ini semakin mahal harganya. Imbasnya biaya yang ditanggung peternak meningkat.

Produksi telur ayam di Jateng kini mencapai 1.200 ton/hari. Sementara itu, kebutuhan jagung mencapai 1.450 ton/hari dengan total populasi ayam petelur mencapai 29,5 juta ekor.

Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Petelur Nasional Jawa Tengah Suwardi mengatakan dalam kondisi normal harga telur dijual Rp19.000/kg-Rp20.000/kg. Namun, saat ini, harga telur ayam hanya Rp18.000/kg.

"Sementara itu, di lapangan, harga jagung naik. Faktor utamanya di Jawa tidak ada panen raya. Hanya 60% di semester I dan 35%-40% semester II karena kemarau panjang," kata Suwardi kepada Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI), Selasa (2/10/2018).

Suwardi mengatakan, selain tak ada panen raya, mahalnya harga jagung juga didorong persaingan dari feedmill karena feedmill tidak lagi mendapatkan kuota impor.  Sementara itu, di sisi harga jual telur, peternak juga telah telah menjual telur sesuai dengan tarif bawah yang telah ditetapkan Kementerian Perdagangan.

"Hari ini harga Rp18.000 di kandang, sudah sesuai harga batas bawah yang ditetapkan Kemendag," ujarnya.

Ditambahkan, para peternak ingin agar harga jagung bisa kembali normal. Jika perlu pemerintah bisa mengatur harga jagung atau melakukan impor jagung agar tidak terjadi persaingan dengan feedmiil. "Kami berharap pemerintah bisa menyediakan harga jagung yang terjangkau," katanya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Bisnis