Dibikin Sambil Selawatan, Batik Rifa'iyah Pikat Ganjar

Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo (kanan), menengok perajin batik di Batang Expo, Kabupaten Batang, Selasa (2/10 - 2018). (Istimewa/Humas Pemprov Jateng)
03 Oktober 2018 14:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Gubernur Jawa Tengah (Jateng) merayakan peringatan Hari Batik Nasional di Kabupaten Batang, Selasa (2/10/2018). Orang nomor satu di Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng itu berkesempatan berkunjung ke acara Batang Expo.

Di acara pameran itu, Ganjar menemukan hasil kerajinan batik yang cukup unik dari asal Kalipucang Wetan, Batang, yakni Batik Rifa'iyah. Ia pun langsung memborong batik itu, sekitar tiga potong.

"Saya kebetulan penggemar batik. Ini pas Hari Batik Nasional, saya kolektor batik hampir seluruh Indonesia. Tadi ada Batik Rifa'iyah, itu menarik betul. Karena tidak hanya corak yang bagus, nyoletnya ternyata sambil selawatan," ujar Ganjar dikutip siaran pers Humas Pemprov Jateng, Selasa.

Batik Rifa'iyah memang cukup unik. Proses pembuatan batik diiringi dengan pembacaan selawat, sehingga identik dengan amalan spiritual.

Penggabungan nuansa karya fisik dan spiritual itulah, kata Ganjar, yang membuat Batik Rifa'iyah tidak bisa ditemukan di tempat lain.

"Orang konsentrasi membuat batik itu ada spiritual yang didengungkan sambil mengaji. Itu nanti hasil yang akhirnya sangat bagus. Saya tidak tahu, apakah nanti akan cemlorong atau tidak batiknya itu, tapi saya tadi lihat saja hasilnya desainnya sudah sangat menarik," kata Ganjar.

Ganjar menilai Batik Rifa'iyah ini menjadi salah satu contoh batik yang tidak mudah. Dari motif, proses atau bahkan sejarahnya. 

"Ini rumit, syaratnya banyak sekali. Dan ini membutuhkan ketelitian. Ini karya tinggi, yang mesti kita promosikan," imbuhnya.

Salah satu perajin Batik Rifa'iyah, Mutmainah, mengatakan batik produksinya dibuat oleh para penganut Rifa'iyah, sebuah organisasi santri di Batang. Salah satu keunggulannya, penggunaan teknik kuno dalam kreasinya.

"Masih menggunakan teknik kuno, motif klasik. Dicanting dua sisi. Masih menggunakan minyak kacang, celup. Itu yang membuat warna Batik Rifa'iyah kuat. Kami masih punya contoh batik berusia sekitar 50 tahun dan masih bagus," katanya. 

Selain itu, dia juga membenarkan pembacaan salawat yang dilakukan perajin saat membatik. Hal tersebut karena penganut Rifa'iah tidak diperkenankan mendengarkan musik, ataupun radio.  

Untuk proses pembuatan, Mutmainah mengaku membutuhkan waktu sekitar 3 - 6 bulan untuk merampungkan batik pada satu lembar kain. "Satu batik dibanderol 500 ribu hingga 3 juta," katanya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya