5.000 Istri Tentara Pecahkan Rekor Membatik Massal

Istri anggota tentara melakukan batik massal di halaman Makodam IV Diponegoro Semarang. (Bisnis)
03 Oktober 2018 08:50 WIB Alif Nazzala Rizqi Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Sebanyak 5.000 istri anggota TNI yang tergabung dalam Dharma Pertiwi memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (Muri) dalam membatik massal dengan peserta terbanyak.

Pencatatan rekor Muri itu dilakukan pada tanggal 2 Oktober yang merupakan Hari Batik Nasional.  Hal ini sesuai dengan ditetapkannya batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) oleh UNESCO pada 2 Oktober 2009.  UNESCO adalah Badan PBB yang membidangi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan.

Di wilayah Kodam IV/Diponegoro sendiri mengerahkan 1.500 orang yang terbagi di lima wilayah yakni Semarang, Pekalongan, Jpgja, Salatiga dan Solo. Untuk di wilayah Semarang diikuti oleh 300 orang yang dalam pelaksanaanya digelar di lapangan Makodam IV/Diponegoro.

Ketua Dharma Pertiwi Daerah D Ny. Iir Wuryanto di sela-sela kegiatan menyampaikan, selain memperingati Hari Batik Nasional, kegiatan ini juga diselenggarakan untuk memperingati HUT TNI ke-73 dan HUT Kodam IV/Diponegoro ke-68 Tahun 2018.

Disampaikannya, kegiatan ini untuk memperkenalkan batik jawa ke seluruh Nusantara dengan harapan dapat memecahkan rekor Muri dan dikenal oleh seluruh masyarakat Indonesia. Batik merupakan salah satu identitas bangsa dan sebuah kerajinan yang telah menjadi bagian dari budaya Indonesia sejak dulu.

Selain itu, batik adalah warisan budaya nusantara (Indonesia) yang mempunyai nilai dan perpaduan seni yang tinggi, syarat dengan filosofi dan simbol penuh makna yang memperlihatkan cara berpikir masyarakat pembuatnya. “Kegiatan ini merupakan upaya menggugah dan membangkitkan semangat seluruh komponen masyarakat Indonesia untuk mencintai dan melestarikan budaya asli Indonesia,” jelas Ny. Iir Wuryanto.

Menurut Ketua Dharma Pertiwi Daerah D, membatik massal dengan canting ini merupakan salah satu bentuk emansipasi wanita yang dilaksanakan oleh Dharma Pertiwi, dalam mengajak wanita Indonesia untuk berkreasi dan mencintai budaya negeri serta menumbuhkan jiwa kewirausahaan anggota Dharma Pertiwi dalam meningkatkan taraf hidup keluarga dan masyarakat.

“Sudah sepatutnya kita lestarikan dan dikenalkan kepada generasi muda agar senantiasa menjadi jati diri bangsa," ungkapnya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Bisnis