Menteri Nyatakan Rektor Unnes Tidak Plagiat, Pakar Hukum UGM Anggap Sesat

Rektor Universitas Negeri Semarang Prof. Fathur Rokhman. (Antara/Istimewa)
08 Oktober 2018 08:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Pernyataan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir, yang menyatakan Rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes), Prof. Fathur Rokhman, tidak melakukan plagiat memicu reaksi keras dari pakar hukum Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Sigit Riyanto. Dekan Fakultas Hukum (FH) UGM itu menyatakan apa yang dikatakan Nasir itu sesat dan tidak relevan.

Nasir, saat dijumpai wartawan di kampus Universitas Diponegoro (Undip), Semarang, Sabtu (6/10/2018), menyatakan bahwa rektor Unnes tidak plagiat, karena hasil penelitiannya dipublikasikan mahasiswanya, Anif Rida. Selain itu, Nasir menyatakan bahwa kasus itu terjadi sebelum 2010 atau sebelum terbitnya Permendiknas No.17/2010 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Plagiat di Perguruan Tinggi, sehingga tidak bisa dijatuhi sanksi.

“Menurut saya apa yang dikatakan menteri itu sesat dan tidak relevan. Tindakan plagiat itu suatu perbuatan yang dilakukan sekali, tapi akibatnya berkelanjutan. Sampai sekarang orang masih bisa membaca [hasil plagiat]. Jadi enggak relevan jika membahas kerangka waktu karena akibatnya masih berkelanjutan,” ujar Sigit saat dihubungi Semarangpos.com jaringan Solopos Grup, Minggu (7/10/2018).

Sigit menilai Permendiknas No.17/2010 berlaku surut untuk pencegahan yang dilakukan perguruan tinggi. Peraturan itu saat ini menjadi acuan institusi pendidikan dalam memberikan hukuman kepada civitas academica yang terbukti melakukan plagiarisme.

Meski demikian, lanjut Sigit, bagi seorang menteri, aturan itu itu tidak bisa menjadi patokan dalam memberikan sanksi terhadap seorang akademisi yang terbukti melakukan plagiat. Hal itu dikarenakan jika seorang akademisi melakukan plagiat, secara etika dan standar akademik telah berbuat curang.

“Plagiat itu tunduk pada etika dan standar universal, kaitannya pada standar akademik dan etika akademik. Tidak dibatasi waktu, melainkan berlaku sampai kapan pun dan di mana pun,” terang Sigit.

Fathur Rokhman diduga melakukan plagiat setelah karyanya berjudul Kode Bahasa dalam Interaksi Sosial Santri: kajian Sosiolinguistik di Pesantren Banyumas yang diterbitkan Jurnal Penelitian Bahasa, Sastra, dan Pengajaran Litera Univeristas Negeri Yogyakarta (UNY) Volume 3 Nomor 1 Tahun 2004, mirip dengan artikel milik Anif Rida berjudul Pemakaian Kode Bahasa dalam Interaksi Sosial Santri dan Implikasinya bagi Rekayasa Bahasa Indonesia: Kajian Sosiolinguistik di Pesantren Banyumas, yang dipublikasikan Konferensi Linguistik Tahunan (Kolita) Atma Jaya, Februari 2003.

Sigit menambahkan, terkait kasus dugaan plagiat rektor Unnes itu dirinya juga telah mendapat bocoran baik dari Tim Independen Kemenristekdikti maupun tim Evaluasi Kinerja Akademik (EKA). Dari kedua kajian tim Kemenristekdikti itu, ia menyebutkan rektor Unnes terbukti plagiat.

“Iya, sekilas saya diberi tahu dan dikirimi itu [hasil kajian tim independen]. Kesimpulan, sudah terjadi plagiat. Tim independen berkata demikian,” ujar Sigit.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya