Ali Mufiz Sarankan Krama Inggil untuk Redam Ujaran Kebencian

Cendikiawan yang juga mantan gubernur Jateng Ali Mufiz. (Antara/Achmad Zaenal M.)
10 Oktober 2018 22:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Cendekiawan yang juga mantan gubernur Jawa Tengah Ali Mufiz menyarankan penggunaan bahasa Jawa krama inggil atau bahasa Jawa halus dalam percakapan di media sosial untuk meredam meluasnya unggahan berisi ujaran kebencian.

Ali Mufiz mengaku gusar dengan semakin meluasnya ujaran kebencian yang diamplifikasi melalui media sosial. Karena itu, ia memaklumi bila ada negara yang mencari jalan pintas dengan menggagas penutupan mesin pencari Google.

"Saya tidak pernah mendengar orang marah-marah dengan menggunakan bahasa Jawa krama inggil karena di dalamnya ada rasa untuk menghormati pihak lain," ujar Ali Mufiz dalam peresmian kelulusan mahasiswa peserta Sekolah Jurnalistik di Universitas Islam Sultang Agung (Unissula) Semarang, Rabu (10/10/2018).

Diakuinya bahasa Jawa memang tidak egaliter, tetapi bisa mendidik seseorang untuk rendah hati, bertutur halus, sekaligus menghormati orang lain. Bahasa, menurutnya selalu dipengaruhi oleh budaya masyarakat setempat sehingga ketika berkomunikasi, pengguna bahasa selalu berusaha menekankan pesannya melalui diksi yang dipilih dalam tuturannya.

Ia memberi contoh penggunaan kata ganti "kamu" dalam bahasa Jawa yang memiliki gradasi, mulai dari kasar hingga halus demi menghormati lawan bicara. Kata "kowe" cenderung dihindari karena selain terkesan merendahkan, artinya juga tidak tepat untuk menunjuk lawan bicara seorang manusia. Kata "kowe", terang dosen Undip Semarang itu, juga berarti “anak kera”.

Dalam derajat kata ganti "kamu", menurut dia, orang Jawa memilih menggunakan kata "sampeyan", "panjenengan", bahkan ada yang menggunakan kata "gusti". "Pemilihan diksi tersebut digunakan untuk menghormati pihak lain," tegasnya.

Ia menjelaskan bahasa merupakan salah satu media dalam pembentukan karakter bangsa sehingga sudah seharusnya bahasa diperlakukan sebagai alat komunikasi dengan tujuan kebajikan. "Apa mereka [penyebar ujaran kebencian] tidak sadar kalau pesan itu bisa melukai orang lain, kecuali [unggahan] itu memang by designed atau direncanakan," paparnya.

Ia mengingatkan bahwa kata-kata itu tidak bebas nilai sehingga penggunanya pun harus sadar bahwa setiap pilihan kata membawa konsekuensi.

Sekolah Jurnalistik Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Tengah bagi mahasiswa Fakultas Hukum Unissula sampai saat ini sudah meluluskan enam angkatan. Program tersebut merupakan kerja sama FH Unissula dengan PWI Jateng untuk memberi kompetensi tambahan bagi lulusan FH Unissula.

Angkatan VI diikuti sebanyak 230 mahasiswa dan 10 mahasiswa dinyatakan sebagai lulusan terbaik. Hadir dalam peresmian kelulusan tersebut, Ketua PWI Jateng Amir Machmud N.S., Dekan FH Unissula Prof. Gunarto, Wakil Rektor Bedjo Santoso, dan Ali Mufiz.

"Unissula merupakan pembuka bagi Sekolah Jurnalistik PWI Jateng yang kemudian diikuti oleh perguruan tinggi lain, misalnya, UIN Walisongo Semarang, Universitas Panca Sakti Tegal, Unsiq Wonosobo, Unwahas, dan dalam waktu dekat dengan Untag Semarang," terang Amir Machmud.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Antara