Dugaan Plagiat Menerpa, Ini Jawaban Rektor Unnes...

Rektor Unnes, Prof. Fathur Rokhman. (Facebook)
12 Oktober 2018 07:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes), Prof. Fathur Rokhman, rupanya tak terlalu menanggapi serius tuduhan plagiat yang ditujukan kepadanya. Meski pun, hasil kajian tim Evaluasi Kinerja Akademik (EKA) Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) dan tim independen menyatakan bahwa Fathur terbukti melakukan plagiat skripsi mahasiswa Unnes pada 2001.

Guru besar Sosiolinguistik itu menilai kasus plagiat dirinya sudah dinyatakan selesai. Kasus itu resmi ditutup menyusul pernyataan Menristekdikti, M. Nasir, yang menyatakan bahwa dirinya tidak melakukan plagiat saat menghadiri acara di Kampus Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, akhir pekan lalu.

“Persoalan sudah selesai sesuai pernyataan Pak Menteri tanggal 6 Oktober [Sabtu] di Semarang. Saat ini saya fokus membangun atmosfir akademik Unnes dan meningkatkan prestasi serta karakter mahasiswa,” ujar Fathur kepada Semarangpos.com, Rabu (10/10/2018) malam.

Fathur menambahkan isu terkait dirinya melakukan plagiat sebenarnya sudah basi atau usang. Kasus itu sudah terjadi sekitar 16 tahun lalu, tapi kembali diangkat.

“Buat berita tentang prestasi Unnes bukan tentang plagiarisme yang sudah basi. Peristiwa 2002 [sudah 16 tahun] diangkat-angkat lagi,” tegas Fathur.

Polemik tentang plagiat yang dilakukan rektor Unnes itu mencuat sejak beberapa bulan terakhir. Ia dituduh melakukan plagiat setelah artikelnya berjudul Kode Bahasa dalam Interaksi Sosial Santri: Kajian Sosiolinguistik di Pesantren Banyumas yang diterbitkan Jurnal Penelitian Bahasa, Sastra, dan Pengajaran Litera Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) 2003 mirip dengan karya ilmiah milik mahasiswanya, Anif Rida, berjudul Pemakaian Kode Bahasa Dalam Interaksi Sosial Santri dan Implikasinya Bagi Rekayasa Bahasa Indonesia: Kajian Sosiolinguistik di Pesantren Banyumas, yang dipublikasikan dalam prosiding Konferensi Linguistik Tahunan Atma Jaya Jakarta pada 2003.

Meski demikian, hasil kajian dari tim EKA maupun tim independen menyatakan jika plagiarisme rektor Unnes itu bersumber pada skripsi mahasiswa pada 2001, Ristin Setiyani, berjudul Pilihan Ragam Bahasa Dalam Wacana Laras Agama Islam di Pondok Pesantren Islam Salafi Al Falah Mangunsari Banyumas.

Namun, dugaan plagiat itu sepertinya runtuh setelah Menristekdikti menyatakan Fathur tidak plagiat. Menteri bahkan mengatakan jika kasus itu terjadi sebelum 2010 atau sebelum aturan terkait plagiarisme ditetapkan melalui Permendiknas No.17/2010.

“Independen sudah lapor ke saya. Mana ini? Tahun berapa ini terjadi? Peraturan plagiarisme keluar tahun 2010. Sebelumnya saya tidak memperhatikan, setelah dicek ternyata itu yang terjadi,” terang Nasir saat dijumpai wartawan di Kampus Undip Semarang, Sabtu kemarin.

Sementara itu, Senat Unnes juga tidak ingin menanggapi polemik plagiat yang menerpa rektornya. Meski pun menurut salah seorang anggota tim Independen Kemenristekdikti yang juga Direktur Jenderal (Dirjen) Kelembagaan Kemenristekdikti, Prof. Patdono Suwignyo, Senat Unnes sudah mendapat hasil kajian dari timnya.

“Maaf saya tidak bisa melayani [berkomentar]. Tidak bisa,” ujar Ketua Senat Unnes, Prof. Soesanto, dalam pesan singkat kepada Semarangpos.com, Selasa (9/10/2018).

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya