DPRD Tolak Tol Bawen-Jogja, Begini Reaksi Pengamat...

Pengamat transportasi dari Unika Soegijapranata, Djoko Setijowarno. (Facebook.com)
16 Oktober 2018 10:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Pengamat transportasi sekaligus akademisi Universitas Katolik (Unika) Sugijapranata, Djoko Setijowarno, mengapresiasi keputusan DPRD Jawa Tengah (Jateng) yang menolak pembangunan proyek jalan tol Bawen di Kabupaten Semarang menuju ke Yogyakarta. Djoko menilai pembangunan tol Bawen-Jogja memiliki banyak kerugian bagi masyarakat Jateng dibanding manfaatnya.

“Kalau itu jadi dijalankan [proyek tol Bawen-Jogja] pastinya akan membuat lahan produktif yang selama ini menjadi andalan sektor pertanian berkurang. Lumbung makanan di Jateng jadi berkurang. Jadi, bagus itu kalau keputusan DPRD seperti itu [menolak],” ujar Djoko saat dihubungi Semarangpos.com, Senin (15/10/2018).

DPRD Jateng dalam rapat paripurna di Gedung Berlian DPRD Jateng, Senin siang, menyatakan menolak pembangunan tol Bawen-Jogja. Mereka menegaskan akan lebih mengembangkan sektor transportas massa, dibanding mengizinkan pembangunan tol Bawen-Jogja.

Padahal, pembangunan tol Bawen-Jogja yang mencapai 70 kilometer (Km) itu telah memasuki tahap penetapan lokasi trase dan masuk dalam daftar proyek strategis nasional (PSN) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

“Saya sependapat dengan DPRD Jateng yang lebih memilih membangun rel kereta api [transportasi massa] dibanding tol. Selain lebih murah, manfaatnya juga bisa diperoleh semua pihak,” terang Djoko.

Djoko mengatakan proyek jalur kereta api dari Bawen menuju Yogyakarta saat ini juga telah masuk dalam PSN Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Rencana proyek itu kembali berjalan tahun depan, dengan membangun jalur kereta api sepanjang 15 Km, dari Tuntang ke Kedungjati.

“Setahu saya proyek jalur kereta api Bawen-Jogja itu sudah masuk PSN Kemenhub 2020-2024. Jadi tahun 2024 nanti antara Jogja dan Semarang sudah terhubung dengan kereta api. Tentunya, ini lebih bagus. Tidak hanya menguntungkan masyarakat yang memiliki kendaraan pribadi, tapi juga menengah ke bawah. Nanti, angkutan barang, seperti pasir, juga bisa diangkut dengan kereta api,” beber Djoko.

Djoko menegaskan daripada membangun proyek tol yang memakan lahan baru, alangkah baiknya pemerintah melakukan pelebaran jalan Bawen-Jogja yang selama sudah ada.

“Itu justru lebih menghemat biaya, dibanding membuat tol yang biayanya mencapai ratusan triliun,” imbuh Djoko.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya