Jokowi Ingatkan Kerukunan Aset Terbesar Indonesia

Jokowi bersilaturahmi dengan keluarga besar Pondok Pesantren Bugen Al-Itqon, Semarang, Jateng, Sabtu (20/10 - 2018). (Setkab/Setpre)
21 Oktober 2018 08:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, JAKARTA — Presiden Joko Widodo mengingatkan bahwa kerukunan dan persatuan merupakan aset terbesar Republik Indonesia yang harus terus dijaga. Hal itu ia sampaikan di hadapan para santri saat bersilaturahmi di Pondok Pesantren Bugen Al-Itqon, Semarang, Jawa Tengah.

"Sudah menjadi sunatullah bahwa bangsa ini memang beragam, berbeda-beda. Jangan sampai antaragama, antarsuku, antardaerah menjelekkan, mencela, tidak saling menghargai, tidak saling menghormati," kata Presiden Jokowi dalam sambutannya di hadapan para santri Ponpes Bugen Al-Itqon, Semarang, Jateng, Sabtu (20/10/2018).

Presiden Jokowi selanjutnya mengajak seluruh pihak untuk saling menghormati dan menghargai serta memberikan toleransi kepada sesama anak bangsa. Menurut dia, bangsa Indonesia akan maju dan bisa menjadi negara besar serta kuat jika bisa menjaga persatuan dan kesatuan. Ia lalu memberi contoh bahwa dengan bekerja sama, maka Indonesia bisa berprestasi membawa harum nama bangsa.

"Coba kita lihat waktu badminton ada yang lihat agamanya apa, sukunya apa. Enggak ada, hanya untuk satu, yaitu Merah Putih, Indonesia Raya, negara kita tercinta. Waktu silat enggak ada yang menanyakan itu pesilat dari daerah mana, dari suku mana. Enggak ada. Inilah yang dibutuhkan negara ini, sebuah persatuan yang kuat, sebuah kerukunan yang kuat," papar Jokowi sebagaimana dikutip keterangan Deputi Protokol, Pers dan Media Sekretariat Presiden, Bey Machmudin.

Pria yang kembali mencalonkan diri sebagai calon presiden dalam Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2019 itu juga menjelaskan tentang kekhawatirannya atas persebaran kabar bohong, hoaks, maupun fitnah di media sosial yang marak menjelang pemilihan umum (pemilu), pemilihan bupati atau wali kota, pemilihan gubernur, hingga pilpres. Kepala Negara mengatakan fitnah dan saling mencela bukanlah tata krama bangsa Indonesia dan nilai-nilai islami.

Jokowi memaparkan berita palsu yang kerap menimpanya adalah tentang dirinya sebagai seorang aktivis Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dibubarkan pada 1965. "Umur saya baru empat tahun, masa sudah jadi aktivis PKI, masa ada PKI balita. Ada juga gambar D.N. Aidit, ketua PKI, waktu pidato tahun 1955, di sebelahnya ada saya coba, saya lahir saja belum. Itulah jahatnya politik, jahatnya fitnah seperti itu. Tapi ada yang percaya, tanya langsung ke saya, ya saya jelaskan,”  kata mantan wali kota Solo dan gubernur DKI Jakarta itu.

Dia juga mengajak seluruh pihak, termasuk warga pondok pesantren membangun sumber daya manusia yang memiliki karakter baik. "Tadi saya baca sekilas bahwa misi Pondok Pesantren Bugen Al-Itqon ini adalah membangun santri yang berakhlakul karimah dan membangun santri yang berkarakter ahlussunnah wal jamaah, saya rasa ini adalah sebuah visi ke depan yang sangat baik dan marilah kita wujudkan bersama-sama,” katanya.

Sejumlah pejabat yang mendampingi presiden dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo pada acara itu antara lain Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, dan Pimpinan Pondok Pesantren Bugen Al-Itqon K.H. Ubaidillah Shodaqoh. Jokowi dalam kunjungan kerja ke Jateng itu bersafari ke sejumlah pondok pesatren, di samping menghadiri acara PDIP dan peringatan Hari Santri Nasional.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Antara