Peringatan Sumpah Pemuda dengan Color Run Dianggap Kampanye LGBT

Ilustrasi acara color run. (Bisnis)
28 Oktober 2018 22:50 WIB Gloria Fransisca Katharina Lawi Semarang Share :

Semarangpos.com, JAKARTA — PT Segara International Development menyelenggarakan Indonesia Color Run (IDCR) 2018 dengan peserta terbanyak untuk mencatatkan rekor di Museum Rekor Indonesia (Muri). Kegiatan dalam rangka peringatan Sumpah Pemuda itu diselenggarakan di tiga kota, yakni Semarang, Jogja, dan Jakarta.

Indonesia Color Run (IDCR) 2018 sempat hampir dicekal karena dianggap mengampanyekam lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Lari dengan taburan bubuk warna-warni yang diselenggarakan dengan menempuh rute sejauh 5 km itu diklaim menghadirkan 28.902 peserta di Gelora Bung Karno, Parkir Timur Senayan, Jakarta, Minggu (28/10/2018). Angka itu belum termasuk peserta yang berlari di Kota Semarang dan Jogja.

Penanggung jawab acara, Rizki Adam, sebagaimana dikutip Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI), menyatakan tujuan digelarnya kegiatan itu adalah untuk mengemas pesan kebersamaan generasi muda di seluruh Indonesia. Kegiatan itu juga diharapkan mampu menjadi ajang sosialisasi cinta olahraga dengan semangat muda serta berbagi pesan-pesan positif, serta menanamkan jiwa-jiwa pejuang yang selalu bersemangat menggapai cita-cita dan berprestasi sebagai generasi penerus bangsa

Berdasarkan pantauan Bisnis.com, beberapa peserta yang hadir dalam IDCR 2018 mayoritas adalah generasi millenials dengan rentang usia 15-28 tahun. Ada pun empat orang perempuan, Tuhfah, 16, Tasya, 16, Adis, 16, dan Hesti ikut serta dalam kegiatan ini untuk bisa bersenang-senang pada akhir pekan. Keempat perempuan ini ternyata adalah teman semasa SMP di SMPN 165 Jakarta. 

Diwawancarai oleh JIBI, Tuhfah mengaku sebagai menjadi orang yang mengajak ketiga temannya ikut serta dalam IDCR 2018. Dia menyebut acara IDCR 2018 ini adalah acara perdana yang dia lakukan bersama Tasya, Adis, dan Hesti. "Biasanya kalau akhir pekan, ya cuma lari-lari biasa saja. Saya kira awalnya tiket ini murah dengan kartu pelajar," terang Tasya kepada Bisnis.

Beberapa keuntungan lain yang didapat dari IDCR 2018 ini, Tasya dan kawan-kawannya bisa berjumpa dengan beberapa teman lama. Meskipun begitu, Tasya menilai acara ini ke depannya harus lebih tertib. Misalnya, saat mengambil polly powder berwarna suasana malah terlampau ramai dan berdesak-desakan. Lalu panitia malah memutuskan melemparkan saja ke peserta. "Jadi kasihan yang di tengah itu berdesak-desakan, lalu mesti dapat lebih banyak," ujar Tasya.

Sedangkan soal acara IDCR 2018 yang hampir dicekal karena dianggap mengampanyekam LGBT, mereka beranggapa bukanlah masalah. Apalagi acara semacam itu, menurut mereka, sangat jarang dilakukan.

Tasya dan kawan-kawan hanya mengingatkan pentingnya ketertiban supaya tidak menyakiti orang lain. Misalnya saja, ada seorang lelaki yang berada di tengah arena color run tiba-tiba pingsan karena kelelahan dan kekurangan napas. "Selama acaranya bagus dan baik-baik saja sih enggak masalah ya," tutur Hesti.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Bisnis