Nelayan Pati Kesulitan Elpiji untuk Melaut

Sejumlah perahu nelayan melaut. (Antara/Akhmad Nazaruddin Lathif)
30 Oktober 2018 03:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, PATI Sejumlah nelayan yang mendapatkan mesin perahu berbahan bakar elpiji mengaku kurang tertarik menggunakan bantuan mesin tersebut untuk melaut karena terkendala pasokan elpiji kemasan tabung ukuran 3 kg.

Menururt Suroto, seorang nelayan asal Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, Jawa Tengah untuk mendapatkan elpiji 3 kg selama ini terbatas di pangkalan asal tempat tinggal nelayan. Sementara itu, aktivitas nelayan, kata dia, tidak terbatas di wilayahnya saja, melainkan bisa sampai ke daerah lain.

Hal itu, katanya, terpaksa dilakukan agar ikan hasil tangkapannya bisa laku dengan harga tinggi ketika dijual dengan kondisi masih segar, sehingga mencari tempat pendaratan terdekat. "Jika harus dibawa pulang ke daerah asalnya, tentunya kondisi ikannya mudah layu dan harga jualnya juga turun," ujarnya di Pati, Jateng, Senin (29/10/2018), .

Ketika berada di daerah lain, kata dia, nelayan yang menggunakan elpiji tentunya perlu mengganti tabung elpijinya yang sudah dipergunakan untuk melaut dengan tabung elpiji yang baru. Hanya saja, katanya, saat berada di daerah lain tersebut, nelayan tentunya tidak mudah mendapatkan elpiji karena namanya selama ini hanya tercatat di pangkalan elpiji di daerah asalnya.

"Jika membeli yang ada di pasaran, harganya tentu lebih mahal sehingga keinginan menghemat justru tidak bisa terwujud," ujarnya.

Untuk itu, katanya, banyak nelayan yang mendapatkan bantuan mesin berbahan bakar elpiji lewat program bantuan "converter kit" atau alat konversi mesin kapal dari yang semula menggunakan premium menjadi bahan bakar gas kembali menggunakan BBM jenis premium. Kendala lain yang dialami nelayan, katanya, tidak bisa memperkirakan sisa elpiji yang ada apakah cukup untuk melaut dengan jarak tertentu atau tidak.

"Karena khawatir kehabisan elpiji di tengah laut dan nelayan lain juga tidak mungkin dimintai bantuan karena elpijinya juga tidak bisa dibagi seperti halnya premium, maka nelayan lebih memilih menggunakan BBM," ujarnya.

Kondisi hampir sama juga terjadi di Kabupaten Demak, karena adanya pengurangan alokasi elpiji khusus untuk nelayan akhirnya sejumlah nelayan kembali menggunakan premium karena alasan kesulitan mendapatkan elpiji 3 kg. Harga jual elpiji 3 kg di pangkalan khusus nelayan berkisar Rp16.000-an per tabung, sedangkan ketika membeli di luar harganya bisa lebih mahal.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Antara