Begini Cara Guru SMPN 2 Semarang Picu Minat Siswa terhadap Wayang Orang…

Dua siswa SMPN 2 Semarang tampil dalam pementasan wayang orang di Gedung Ki Narto Sabdo, Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Kota Semarang, Selasa (30/10 - 2018). (Semarangpos.com/Imam Yuda S.)
01 November 2018 06:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Tawa riuh terdengar dari ruang pementasan di Gedung Ki Narto Sabdo, Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Kota Semarang, Selasa (30/10/2018) pagi. Tawa itu rupanya berasal dari ratusan siswa SMPN 2 Semarang yang tengah menyaksikan pementasan wayang orang.

Mereka terlihat serius memperhatikan gerak-gerik para pemain wayang yang memerankan empat tokoh punakawan, Gareng, Petruk, Bagong, dan Semar. Meski fokus, para siswa yang mengenakan seragam putih biru itu tak jarang tertawa terbahak-bahak.

“Lucu. Tingkah pemerannya kocak. Apalagi saat mengerjai teman saat di panggung tadi,” ujar salah seorang siswa, Annisa Friya, saat berbincang dengan Semarangpos.com, Selasa.

Annisa mengaku ini merupakan kali pertama menyaksikan pementasan wayang orang secara langsung. Sebelumnya, ia hanya menyaksikan pementasan kesenian tradisional itu melalui layar kaca. Itu pun disaksikannya hanya sepintas dan dalam tempo yang singkat.

“Enggak pernah [nonton]. Ini baru pertama. Ternyata seru juga. Ceritanya memang enggak terlalu paham. Tapi, tata panggungnya bagus. Kostum para pemain juga apik,” ujar siswi yang duduk di bangku kelas IX SMPN 2 Semarang itu.

Annisa tak datang sendiri untuk menyaksikan pementasan wayang orang di Gedung Ki Narto Sabdo, TBRS, Semarang. Ia hadir bersama ratusan temannya untuk menyaksikan pertunjukan seni tradisional yang dimainkan grup Wayang Orang (WO) Ngesti Pandawa itu.

Siswa SMPN 2 Semarang terlihat asyik menyaksikan pementasan wayang orang Grup Ngesti Pandawa di Gedung Ki Narto Sabdo, Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Kota Semarang, Selasa (30/10/2018). (Semarangpos.com-Imam Yuda S.)

Guru SMPN 2 Semarang, Priyono, menyebutkan total ada sekitar 286 siswa kelas IX yang diajak menonton pementasan wayang orang itu. Kegiatan itu merupakan bagian dari pengenalan budaya tradisional yang masuk dalam kurikulum mata pelajaran Bahasa Jawa dan Pendidikan Seni dan Budaya.

“Ini memang baru kali pertama kami mengajak siswa menyaksikan secara langsung pementasan wayang orang. Harapannya, anak-anak menjadi lebih tertarik dengan budaya daerah sendiri,” ujar Priyono.

Selain memperkenalkan budaya asli daerah, Priyono berharap para siswa menjadi lebih tertarik dengan seni dan budaya asli daerah. Apalagi di era digital dan modern seperti saat ini, siswa kerap disuguhi tontonan yang berasal dari budaya luar negeri, seperi drama Korea maupun film-film luar negeri.

“Minat anak zaman sekarang dengan pertunjukan seni tradisional sangat rendah. Makanya, harus didorong dengan kegiatan seperti ini. Saya juga berharap Dinas Pendidikan Kota Semarang mau menjadikan kegiatan seperti ini [pengenalan seni dan budaya tradisional] sebagai kegiatan wajib di semua sekolah agar seni tradisional tetap diminati,” beber Priyono.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya