Konstruksi PLTU Batang Sudah 57,2%

Pekerja beraktivitas di proyek pembangunan PLTU di Ujungnegoro, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Jumat (16/3/2018). - ANTARA/Harviyan Perdana Putra
01 November 2018 03:50 WIB Lucky Leonard Semarang Share :

Semarangpos.com, BATANG — Hingga September 2018, pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Batang berkapasitas 2x1.000 megawatt (MW) yang digarap PT Bhimasena Power Indonesia (BPI) sudah mencapai 57,2% rampung.

Realisasi tersebut lebih rendah daripada rencana yang telah disusun BPI, yakni 59,9%, untuk September 2018. Kendati demikian, perseroan tetap optimistis proyek yang nilai investasinya mencapai US$4,2 miliar tersebut akan selesai tepat waktu.

Presiden Direktur BPI Takashi Irie mengatakan melesetnya persentase tersebut disebabkan oleh hal nonteknis, antara lain cuaca. Namun, dampaknya dinilai tidak terlalu signifikan.

Adapun PLTU Batang ditargetkan beroperasi penuh pada akhir 2020. Menurutnya, dari segi teknis, belum ada kendala berarti yang bisa menghambat konstruksi proyek tersebut.

"Commercial operation date [COD] unit satu rencananya pada akhir Mei atau Juni 2020, sementara untuk unit dua di akhir November atau Desember 2020," ujarnya di area proyek PLTU Batang, Selasa (30/10).

Dia menjelaskan pembangkit tersebut memakai teknologi ultra super critical (USC) yang diklaim paling canggih dan ramah lingkungan. Pasalnya, efisiensi panas yang lebih tinggi memungkinkan konsumsi batu bara dan emisi CO2 yang lebih rendah.

"Efisiensinya di atas 10% dari PLTU dengan teknologi subcritical," tuturnya.

Untuk batu bara, utamanya akan dipasok oleh PT Adaro Indonesia, anak usaha PT Adaro Energy Tbk. Seperti diketahui, BPI merupakan perusahaan patungan yang didirikan oleh tiga perusahaan, yakni Electric Power Development Co., Ltd (J-Power), PT Adaro Power yang merupakan anak perusahaan Adaro Energy, dan Itochu Corporation (Itochu). Berdasarkan perjanjian jual beli listrik (power purchase agreement/PPA) PLTU Batang, PT PLN (Persero) akan jadi pihak pembeli selama 25 tahun sejak COD.  

Adapun 500 kV jalur transmisi baru sepanjang 7 kilometer (km) akan dibangun dari PLTU menuju transmisi milik PLN. Setelah selesai dibangun, jalur transmisi dan gardu induk akan dioperasikan oleh perusahaan pelat merah tersebut.

Sebelumnya, pihak Adaro telah berkomitmen untuk menjaga tingkat produksi batu bara mereka di kisaran 52-56 juta ton per tahun. Pembatasan produksi tersebut dilakukan untuk menjaga pasokan batu bara bagi PLTU di Indonesia, khususnya yang ikut dibangun oleh Adaro.

"Cadangan harus dijaga untuk jangka panjang. Ke depan akan banyak pembangkit listrik di Indonesia yang memerlukan batu bara dalam jumlah besar," kata Presiden Direktur Adaro Garibaldi Thohir.

Sementara itu, jumlah tenaga kerja untuk proyek PLTU Batang terus meningkat. Hingga 12 Oktober 2018, tenaga kerja per hari mencapai 8.963 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 8.683 orang atau 96,88% merupakan pekerja lokal dan sisanya sebanyak 280 orang atau 3,12% merupakan tenaga asing.

Untuk pekerja lokal, sebanyak 2.636 atau 29,41% di antaranya berasal dari Batang, sementara pekerja lokal dari luar batang tercatat sebanyak 6.047 orang atau 67,47%.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Bisnis