Jateng Galakkan Pertanian Terpadu Berbasis Pesantren

Ilustrasi insan pertanian merontokkan padi. (Bisnis/Rachman)
01 November 2018 04:50 WIB Alif Nazzala Rizqi Semarang Share :

Semarangpos.com, JEPARA — Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin mengatakan potensi sekitar pondok pesantren harus didayagunakan secara optimal. Untuk dapat mengembangkan setiap potensi dengan baik, pelaksananya harus punya kejelian, cermat, niat, semangat, dan bekerja keras.

“Kalau kita jeli, maka potensi sekecil apapun akan jadi berkah dan rezeki yang melimpah. Tapi kalau nggak jeli, ada potensi besar pun nggak sadar atau nggak ngerti mau diapakan. Eman-eman kalau begini,” kata Taj Yasin dalam keterangan pers yang diterima Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI), Rabu (31/10/2018).

Wagub Jateng lalu memberi contoh, di sektor pertanian, potensi bisnisnya bukan bukan hanya pada sisi on farm, tetapi ada potensi lain di sisi off farm  yang prospektif secara keekonomian untuk dikembangkan. Misalnya, panen padi, akan lebih baik jika tidak dijual berupa gabah, tapi berupa beras karena nilai jualnya lebih tinggi. Bisa juga menjual beras dalam bentuk kemasan sehingga lebih menarik perhatian konsumen.

“Beras kemasan tentu harganya menjadi makin baik dibanding tanpa kemasan. Atau kemudian bisa pula diolah menjadi tepung beras. Tentu harganya bisa lebih tinggi. Inilah komodifikasi itu, mengolah komoditas menjadi punya nilai tambah ekonomi secara signifikan,” jelas dia.

Ditambahkan, Pemprov Jateng berkomitmen memberikan stimulus dan bantuan untuk pengembangan pertanian terpadu di pondok pesantren. Namun, dia menggarisbawahi, bantuan yang diterima ponpes mesti bisa dikelola dengan baik. Jika menemui kendala, jangan ragu untuk konsultasi dengan pendamping dari OPD terkait.

“Membanggakan kalau semua ponpes punya usaha ekonomi produktif yang maju dan berhasil. Kebutuhan operasional pondok bisa dipenuhi dari hasil kerja sendiri, bahkan bila berlebih bisa untuk pengembangan pondok. Syukur-syukur bisa mendorong tumbuhnya ekonomi produktif pada lingkungan masyarakat sekitar pondok pesantren,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Jateng Sri Puryono menambahkan, pada 2018, program pertanian terpadu berbasis pesantren diarahkan berkembang pada kegiatan agribisnis. Agribisnis adalah bisnis berbasis usaha pertanian atau bidang lain yang mendukungnya, baik di sektor hulu maupun hilir.

“Penyebutan hulu dan hilir mengacu pada pandangan pokok bahwa agribisnis bekerja pada rantai sektor pangan atau food supply chain. Agribisnis mempelajari strategi memperoleh keuntungan dengan mengelola aspek budidaya, pascapanen, proses pengolahan, hingga tahap pemasaran,” papar mantan Ketua Umum Forum Sekda Seluruh Indonesia (Forsesdasi) itu.

Untuk melaksanakan program pertanian terpadu berbasis pesantren, pemerintah akan selalu memberikan stimulus pada kegiatan pengembangan pertanian, perikanan maupun peternakan yang dilakukan oleh pesantren. Yakni melalui pemberian bantuan bibit tanaman, ikan, ternak dan pengembangan di sektor hilir yang berupa pengolahan hasil pertanian, perikanan dan peternakan.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Bisnis