Ini Penyebab Macan Gunung Lawu Serang Ternak Warga…

Ilustrasi macan tutul Jawa. (dok. Solopos.com)
03 November 2018 18:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah (Jateng) mengungkapkan penyebab hadirnya macan Gunung Lawu di permukiman warga di Desa Sepanjang, Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar, Selasa-Rabu (30-31/11/2018).

Kepala BKSDA Jateng, Suharman, menilai kehadiran macan itu terjadi karena habitatnya yang mulai terusik menyusul musim kemarau yang berkepanjangan. Selain itu, persediaan makanan di hutan Gunung Lawu kemungkinan juga telah menipis, sehingga kawanan binatang buas itu turun gunung.

“Saya kemarin sudah menginstruksikan petugas untuk memeriksa kondisi hutan di Gunung Lawu. Laporan yang saya terima, kondisi di sana masih mongering, bahkan sebagian masih terbakar. Mungkin kondisi ini yang membuat macan tersebut turun ke permukiman warga,” ujar Suharman saat dihubungi Semarangpos.com, Jumat (2/12/2018).

Macan yang datang ke permukiman warga itu memang tidak sampai menyerang penduduk. Meski demikian, bintang buas itu menyerang ternak milik warga. Total ada 8 kambing milik warga yang diterkam macan tersebut. Dari delapan ekor kambing itu, satu di antaranya bahkan dibawa macan masuk ke dalam hutan.

“Memang benar kabar itu [macan menyerang ternak warga]. Macan yang menyerang itu jenis Panthera Pardus atau macan tutul. Jumlahnya masih cukup banyak di Gunung Lawu, Nusakambangan, bahkan di Kudus [Gunung Muria] juga ada,” terang Suharman.

Meski demikian, Suharman mengaku heran macan tutul itu mau turun ke permukiman warga. Padahal, selama ini macan tutul jarang menampakan diri kepada manusia dan lebih sering bersembunyi di pepohonan karena memiliki kemampuan memanjat yang lihai.

“Ini merupakan kali pertama macan tutul itu turun ke permukiman warga. Ya itu tadi, mungkin karena stok makanannya di atas [Gunung Lawu] sudah mulai menipis dan membuat mereka kelaparan,” imbuh Suharman.

Meski demikian, Suharman meminta warga untuk tidak panic menghadapi fenome datangnya macan tutul tersebut. Ia juga meminta warga tidak gegabah dengan balik menyerang atau membunuh macan tersebut.

“Macan tutul itu dilindungi karena termasuk hewan yang terancam punah. Jadi, saya minta warga jangan menyerang. Saran saya, warga lebih baik meningkatkan kewaspadaan. Mungkin dengan memasang pagar di kandang hewan ternak atau beronda malam hari menjaga ternaknya,” beber Suharman.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya