Medsos Geser Buku, Ini Kata Pemimpin Muhammadiyah…

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menjadi pembicara kunci dalam Bedah Buku Kuliah Muhammadiyah di kampus Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jateng, Sabtu (3/11 - 2018). (Antara/Sumarwoto)
05 November 2018 07:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, PURWOKERTO — Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menilai peran buku konvensional sekarang digeser oleh media sosial. "Padahal, ada kelebihan buku, yaitu tidak merusak mata. Namun sekarang sudah banyak orang yang kembali ke buku," katanya.

Oleh karena itu, dia memberikan apresiasi kepada UMP sebagai lembaga akademik yang menghidupkan tradisi kajian buku melalui kegiatan bedah buku Kuliah Muhammadiyah yang ditulisnya. Menurut dia, hal itu yang paling penting karena tradisi literasi saat sekarang kurang berkembang.

"Jadi dengan membedah buku, nanti mahasiswa jadi terbiasa untuk mengkaji buku-buku," katanya seusai menjadi pembicara kunci dalam Bedah Buku Kuliah Muhammadiyah dan Peluncuran Suara Muhammadiyah Corner di kampus Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Sabtu (3/11/2018).

Lebih lanjut, Haedar mengatakan dalam buku Kuliah Muhammadiyah yang ditulisnya, dia menampilkan pemikiran K.H. Ahmad Dahlan yang punya dua sisi, yakni sisi pemurnian Islam dan sisi yang berorientasi pembaruan. Dalam sisi pemurnian Islam, kata dia, nilai-nilai akidah, ibadah, dan akhlak memang harus murni. Akan tetapi, lanjut dia, murni pun harus melahirkan kekayaan yang menimbulkan rohani, alam pikiran, dan perilaku keislaman yang baik.

Terkait dengan orientasi pembaruan, dia mengatakan Muhammadiyah melahirkan sekolah, ruamah sakit, dan perguruan tinggi. "Kemudian dakwah juga sampai ke pelosok, lalu bikin banyak lembaga ekonomi dan sosial. Itu bagian dari aktualisasi Islam. Jadi bukan hal yang pragmatis tapi aktualisasi dari nilai-nilai Islam," katanya.

Sementara itu, Rektor UMP Syamsuhadi Irsyad mengatakan melalui teologi Al Maun, Muhammadiyah telah membuktikan diri sebagai gerakan yang sangat menekankan pentingnya amal saleh.  "Dengan menekuni wilayah praksis sosial keagamaan berarti Muhammadiyah telah melaksanakan prinsip a faith with action atau mengajak dengan amalan dan tindakan konkret," katanya.

Menurut dia, hadirnya ribuan rumah sakit, sekolah, dan amal usaha Muhammadiyah lainnya merupakan bentuk konkret dakwah peradaban Muhammadiyah. Ideologi Muhammadiyah, katanya mengingatkan, berwatak kemajuan, karena Islam merupakan agama yang mengandung nilai-nilai kemajuan.

"Muhammadiyah telah mempraktikkan ajaran sedikit berbicara banyak bekerja, berdisiplin, bekerja keras, dan tanggung jawab secara organisasi," katanya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Antara