Ini Alasan Solo Jadi Pusat Peredaran Narkoba...

Kepala BNN Jateng, Brigjen Pol. Mohamad Aris P. (kiri), dan Kabid Brantas, AKBP Suprinarto (tengah), memeriksa hasil tangkapan dari jaringan narkoba Soloraya di Kantor BNN Jateng, Kota Semarang, Jumat (2/11 - 2018). (Semarangpos.com/Imam Yuda S.)
05 November 2018 18:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Peredaran narkoba di wilayah Soloraya terbilang marak dalam kurun satu tahun terakhir. Data Badan Narkotika Nasional (BNN) bahkan menyebutkan Soloraya menjadi pusat peredaran barang terlarang itu di Jawa Tengah (Jateng).

Sepanjang 2018, total ada 13 kasus narkoba yang ditangani BNN Provinsi Jateng. Dari kasus sebanyak itu, delapan di antaranya atau sekitar 61% berada di Soloraya.

Kepala Bidang (Kabid) Pemberantasan BNN Provinsi Jateng, AKBP Suprinarto, menyebutkan beberapa alasan Solo menjadi pusat peredara narkoba di Jateng.

Salah satunya, yakni karena kondisi geografis Solo yang strategis. Kampung halaman Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) itu berada di jalur perlintasan antarprovinsi, Yogyakarta dan Jawa Timur (Jatim), sehingga kerap menjadi lokasi persinggahan para pengedar narkoba.

Alasan lain, tak lain karena harga pasaran narkoba, terutama jenis sabu-sabu di Solo terbilang lebih murah dibanding daerah lain di Jateng.

Suprinarto menyebut harga satu gram narkoba jenis sabu-sabu di Solo berkisar antara Rp1,5 juta. Harga ini jauh lebih murah dibanding satu gram sabu-sabu di Kota Semarang maupun daerah pesisir, seperti Jepara.

"Di Jepara, satu gram sabu-sabu dijual Rp1.750.000. Lebih mahal dibanding di Solo. Kalau di Semarang enggak beda jauh, tapi pastinya lebih mahal sedikit," ujar Suprinarto kepada wartawan di Kantor BNN Jateng, Kota Semarang, Jumat (2/11/2018).

Lebih lanjut, Suprinarto, mengungkapkan alasan harga narkoba di Solo lebih murah dibanding daerah lain. Alasannya tak lain karena permintaan sabu-sabu di Solo cukup tinggi.

"Semakin banyak permintaan, kan harganya semakin murah. Apalagi pengedar kalau sudah bawa barang seperti ini maunya segera laku," terang Suprinato.

Data BNN menyebutkan selama Januari-Agustus 2018, total sudah ada 21 orang tersangka yang ditangkap karena kasus penyalahgunaan narkoba. Dari 21 tersangka itu, 13 orang di antaranya merupakan warga yang berdomisili di Soloraya. Sedangkan, jumlah narkoba yang berhasil disita BNN Jateng dalam kurun waktu selama itu, yakni sekitar 7,8 kg sabu-sabu dan 110 butir ekstasi.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya