Tempe Karya Dosen UKSW Raih Penghargaan Nasional, Seperti Apa Bentuknya?

Dua dosen UKSW yang meraih penghargaan dari BIC Indonesia, Lusiawati Dewi, dan Deddy Susilo. (Istimewa/Humas UKSW)
06 November 2018 06:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Dosen Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Lusiwati Dewi, meraih penghargaan dari Bussines Innovation Center (BIC) Indonesia. Ia meraih penghargaan atas karyanya, yakni sebuah tempe.

Dikutip siaran pers Humas UKSW Salatiga, tempe ciptaan Lusiawati itu bukanlah tempe sembarangan yang beredar di pasaran. Tempe inovasi dosen UKSW itu memiliki kandungan protein yang lengkap, tak hanya nabati tapi juga hewani, karena dicampur saripati ikan.

“Produk ini saya beri nama tempe ikan atau Tekan, karena memang dalam proses pembuatannya berbahan dasar kedelai dan serbuk ikan. Tempe ikan ini juga sudah memperoleh paten sehingga juga siap dipasarkan,” ujar Lusiawati dalam siaran pers yang diterima Semarangpos.com, Senin (5/11/2018).

Lusiawati Dewi menyebut ide awal dari proses pembuatan tempe ikan ini yaitu banyaknya keluhan dari masyarakat tentang rendahnya minat makan ikan terutama di kalangan anak-anak. Berbekal ide dasar inilah kemudian dirinya berinovasi dengan tempe ikan yang juga kaya akan asam amino.

Selain Lusiawati, dosen lain di UKSW yang karyanya masuk dalam 110 Inovasi Indonesia 2018 oleh BIC adalah Deddy Susilo. Dosen Fakultas Teknik Elektronika dan Komputer (FTEK) UKSW ini menciptakan media pembelajaran trainer elektronika.

Tempe hasil inovasi dosen UKSW Salatiga, Lusiawati Dewi, yang masuk dalam 110 Inovasi Indonesia 2018 oleh BIC Indonesia. (Istimewa-Humas UKSW)

Deddy mengklaim, trainer elektronika yang diproduksinya ini memiliki keunggulan dibandingkan produk yang sudah ada sebelumnya. Trainer elektronika ini memiliki chip yang dapat dilihat dengan jelas, sehingga mempermudah proses belajar. Produk ini juga dapat digunakan pada jurusan teknik komputer, otomotif, teknik informatika, fisika, serta teknik mesin baik di aras Sekolah Menegah Kejuruan (SMK) dan politeknik.

Lusiwati dan Deddy berharap dengan masuknya karya mereka dalam BIC akan menarik minat investor untuk memasarkan secara massal kepada masyarakat. Dua dosen kampus UKSW Salatiga ini juga mengimbau agar masyarakat lebih memanfaatkan berbagai hasil inovasi yang sudah ada karena memiliki manfaat yang lebih baik dari produk sebelumnya.

Selanjutnya kedua hasil inovasi tersebut akan dimuat dalam majalah BIC yang akan mulai diedarkan ke berbagai kota di Indonesia pada Desember mendatang. Versi e-book juga dapat diunduh secara cuma-cuma melalui laman bic.web.id.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya