Begini Cara BPOM Berantas Peredaran Jamu Ilegal...

Kepala BPOM, Penny Kusumastuti Lukito, menyerahkan cendera mata kepada salah seorang pengusaha farmasi di Hotel PO, Semarang, Selasa (6/11 - 2018). (Semarangpos.com/Imam Yuda S.)
07 November 2018 08:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Maraknya peredaran jamu, obat-obatan, dan produk makanan yang tidak lolos uji kesehatan membuat Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) gerah. BPOM pun berencana memasang barcode pada produk-produk tersebut guna menanggulangi peredaran produk ilegal atau yang tidak berizin.

Hal itu disampaikan Kepala BPOM, Penny Kusumastuti Lukito, saat menggelar pertemuan dengan pengusaha farmasi di Hotel PO, Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng), Selasa (6/11/2018).

Penny mengaku pemasangan barcode terhadap produk yang lolos uji itu akan diterapkan dalam waktu dekat ini.

"Kita saat ini sudah menyosialisasikan penerapan barcode di produk yang telah lolos uji laboratorium. Pemasangan barcode akan dilakukan bertahap mulai akhir tahun ini. Mudah-mudahan bisa menekan peredaran barang ilegal di Indonesia," ujar Penny.

Lebih lanjut, Penny mengatakan saat ini tengah menunggu kesiapan para pelaku industri untuk memasang barcode pada produknya.

Selain itu, demi mengatasi maraknya peredaran obat-obatan ilegal itu BPOM juga menjalin kerja sama dengan instansi terkait, seperti aparat kepolisian, dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo).

"Kita berkolaborasi dengan intel, kepolisian, dan Kominfo untuk mengawasi penjualan obat secara online. Barang yang dijual secara online jumlahnya sangat banyak dan berpotensi tidak dilengkapi izin," imbuh Penny.

Selain pengawasan, lanjut Penny, BPOM juga mengimbau kepada masyarakat terkait bahaya penggunaan obat-obatan ilegal. Obat yang belum lulus uji laboratorium BPOM tidak diketahui kadarnya dan berisiko mengancam kesehatan pemakainya.

"Saya juga mengingatkan ke para pegawai POM untuk bisa membedakan mana penjahat, mana pengusaha. Sudah banyak pengungkapan obat ilegal dan jamu tradisional yang kami lakukan beberapa waktu lalu. Saat ini jumlahnya semakin mengkhawatirkan," bebernya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya