Duh, Fenomena Air Rebusan Pembalut untuk Mabuk Merambah Jateng

Kabid Brantas BNN Provinsi Jateng, AKBP Suprinarto. (Semarangpos.com/Imam Yuda S.)
07 November 2018 18:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Jawa Tengah (Jateng) mengindikasi adanya perilaku menyimpang yang ditunjukkan sejumlah remaja di Jateng untuk sekadar mencari sensasi mabuk.

Mereka tak lagi mengonsumsi obat-obatan terlarang dan narkotika yang harganya mahal. Para remaja itu mulai merebus pembalut untuk dikonsumsi airnya agar mendapat sensasi mabuk.

Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Pemberantasan (Kabidbrantas) BNN Provinsi Jateng, AKBP Suprinarto, kepada wartawan di kantornya, Jl. Madukoro, Kota Semarang, Jumat (2/11/2018).

"Tren itu sudah mulai terjadi di Jateng, terutama di daerah pinggiran. Bahkan di Semarang Timur juga sudah ada yang melakukan. Rata-rata yang mengonsumsi remaja usia 13-16 tahun," ujar Suprinarto.

Suprinarto mengatakan rata-rata pengguna air rebusan pembalut wanita itu merupakan remaja yang tak memiliki uang untuk membeli narkoba sejenis sabu-sabu. Harga sabu-sabu per gram saat ini memang relatif mahal, mencapai Rp1,5 juta.

"Sebagai alternatif, akhirnya mereka mengonsumsi air rebusan pembalut. Airnya di minum. Katanya bisa membuat fly [mabuk]," imbuh Suprinarto.

Suprinarto menambahkan para remaja yang menggunakan air pembalut wanita untuk mabuk itu mulanya sangat jorok. Mereka bahkan rela mengais di tempat sampah agar mendapat pembalut bekas untuk direbus.

Namun, lambat laun tren tersebut berubah. Kebanyakan remaja mulai jijik menggunakan pembalut bekas. "Sekarang lebih higienis cari barang [pembalut] baru dan katanya rasanya seperti menggunakan sabu-sabu. Pembalut kan ada gelang yang fungsinya menyerap air [darah haid] itu yang bikin fly," ujar Suprinarto.

Selain air rebusan pembalut, Suprinarto mengatakan ada beberapa cara lain yang kerap dipakai para remaja agar mendapat sensasi memabukan. "Selain air rebusan pembalut, mereka biasanya juga mengonsumsi jamur kotoran sapi atau menghisap lem, hanya untuk sekadar mabuk. Ini kebiasaan yang perlu kita waspadai dan bisa merusak generasi muda," tutur Suprinarto.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya