Air Rebusan Pembalut Berbahaya! Ini Efeknya bagi Tubuh...

Ilustrasi fenomena mabuk di kalangan remaja. (dok. Solopos.com)
08 November 2018 08:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Guru besar Ilmu Kimia Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Prof. Heru Susanto mengaku prihatin mendengar fenomena remaja saat ini yang mengonsumsi air rebusan pembalut wanita hanya untuk sekadar mencari sensasi mabuk.

Hal itu disampaikan Heru menanggapi beredarnya kabar yang didengungkan Badan Narkotika Nasional (BNN) Jawa Tengah (Jateng) terkait  fenomena mengonsumsi air rebusan pembalut wanita di kalangan remaja di Jateng untuk mencari sensasi memabukan agar bisa mendapatkan kondisi fly atau mabuk.

Heru menilai perilaku tersebut sangat membahayakan. Terlebih lagi jika, pembalut yang direbus itu bekas atau telah digunakan. “Jelas sangat berbahaya. Apalagi jika pembalut itu mengandung senyawa-senyawa kimia yang berbahaya bagi tubuh jika dikonsumsi. Kalau bekas, maka lebih berbahaya lagi karena ada kemungkinan tercampur dengan spora [bakteri],” ujar Heru saat dihubungi Semarangpos.com, Rabu (7/11/2018).

Heru menyebutkan kebanyakan pembalut wanita terbuat dari unsur kimia polimer. Senyawa itu biasa digunakan untuk pembuatan plastik, karet, dan lain-lain. Selain polimer, ada beberapa pembalut wanita yang juga mengandung unsur senyawa dioksin. Senyawa dioksin inilah yang berbahaya bagi tubuh.

Jika mengonsumsi zat tersebut, efeknya akan sangat berbahaya bagi tubuh. Sistem kekebalan tubuh pengguna akan berkurang, bahkan bisa menyebabkan kanker.

“Memang tidak semua pembalut mengandung dioksin. Tapi biasanya selain dioksin, dalam polimer itu juga ada formalin [bahan pengawet]. Jelas zat-zat seperti itu kalau dikonsumsi sangat berbahaya bagi tubuh,” jelas Heru.

Lebih lanjut, Heru menilai kebiasaan remaja mengonsumsi air rebusan pembalut lebih dikarenakan faktor ekonomi. Mereka berusaha mencari benda-benda yang mengandung senyawa dioksin maupun formaldehida, yang biasa terdapat dalam lem kayu, agar mencapai kondisi mabuk.

 “Orang-orang yang biasa fly, akan mencoba mencari material yang mengandung unsur seperti dioksin dan formaldehida. Mungkin karena untuk mendapat senyawa seperti itu secara langsung mereka kesulitan,” beber Heru.

Sementara itu, Kepala Bidang Pemberantasan (Kabidbrantas) Badan Narkotika Nasional (BNN) Jawa Tengah (Jateng), AKBP Suprinarto, menyebutkan fenomena mengonsumsi air rebusan pembalut saat ini memang tengah mewabah di kalangan remaja di Jateng. Ia bahkan mengindikasi tren menyimpang itu sudah mulai merambah remaja di Kota Semarang, tepatnya di wilayah pinggiran.

Para remaja itu melakukan perilaku tersebut karena tak mampu membeli narkoba, seperti sabu-sabu, yang harganya mencapai jutaan rupiah. “Sebagai gantinya, mereka banyak yang meminum air rebus pembalut, mengonsumsi jamur kotoran sapi, atau mengisap lem, agar mendapat sensasi mabuk,” tutur Suprinarto.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya