Merebus Pembalut Wanita Tak Bertujuan Seksual

Ilustrasi pembalut wanita. (easyperiod.ca)
08 November 2018 11:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Remaja pencandu air rebusan pembalut wanita yang terdeteksi di Jawa Tengah semuanya berjenis kelamin laki-laki. Meski demikian, perilaku menyimpang tersebut bukan dikarenakan orientasi seksual seorang pria terhadap perempuan.

“Ini bukan karena itu pembalut dipakai wanita lalu ada kecenderungan seksual ke sana,” kata psikolog, Indra Dwi Purnomo, yang turut menangani anak-anak pencandu air rebusan pembalut wanita itu di Kantor Badan Nasional Narkotika (BNN) Provinsi Jawa Tengah, Selasa (6/11/2018).

Menurutnya, anak-anak yang kecanduan minum air rebusan pembalut wanita merasakan efek halusinasi dan kehilangan kesadaran. Berbeda dengan pencandu obat Hexymer yang memiliki kecenderungan hasrat seksual meningkat tajam.

“Jadi pembalut rebus ini bukan soal [hasrat seksual] perempuan. Kalau yang itu beda lagi, mereka biasa pakai Hexymer. Jadi dulu ada kasus-kasus perempuan dibawa lari, dan itu pelaku pakai obat tersebut hingga efeknya hasrat seksual terus,” jelasnya sebagaimana dipublikasikan laman aneka berita Okezone.com, Rabu (7/11/2018).

Meskipun tak berorientasi seksual tertentu atau berakibat meningkatnya libido seksual, bukan berarti air rebusan pembalut wanita tak berakibat negatif. Sejumlah remaja yang kecanduan air rebusan pembalut wanita memiliki perilaku menyimpang dan berpotensi bertindak kriminal.

Puluhan anak di Jawa Tengah yang menjadi pencandu air rebusan pembalut wanita sering disebut psikolog Indra Dwi Purnomo bakal menjadi “Raja Ong”. “Biasanya anak-anak yang kecanduan ini akan menjadi ‘Raja Ong’, yaitu raja bengong, raja bohong, dan raja nyolong,” kata dia.

Ia lalu memaparkan analisisnya lebih lanjut. “Ini sudah menjadi rangkaian mulai bengong, bohong, dan nyolong. Bengong misalnya waktu di sekolah dia tidak bisa konsentrasi. Setelah itu dia akan banyak alasan hingga berbohong, dan nyolong. Ambil-barang-barang untuk dijual agar punya uang untuk beli barang [pembalut atau narkotika],” bebernya.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Kepala Bidang Pemberantasan BNN Jateng AKBP Suprinarto mengatakan pihaknya menemukan kasus remaja pencandu air rebusan pembalut wanita di beberapa daerah. Kebanyakan mereka adalah anak-anak muda yang mendiami wilayah pinggiran kota, seperti Purwodadi, Kudus, Pati, Rembang, serta di Kota Semarang bagian timur.

Supri menyebut anak-anak yang mulai kencanduan mengonsumsi air rebusan pembalut wanita itu masih berusia pelajar, pada kisaran 13-16 tahun. Keterbatasan ekonomi menjadi alasan utama anak-anak tersebut mengonsumsi minuman tak lazim itu.

Karena tak mampu membeli sabu-sabu yang harganya mencapai jutaan rupiah per gram, mereka mencoba sensasi menyabu dengan air rebusan pembalut wanita. “Narkotika ini pada kelompok tertentu mungkin mahal, sehingga pada kelompok masyarakat tertentu bagi anak-anak ini yang masih mencoba terutama anak jalanan, juga pengin seperti itu [mengonsumsi sabu-sabu],” kata Suprinarto.

Suprinarto juga mengamini analisis Indra Dwi Purnomo. Menurutnya, perilaku menyimpang remaja yang menjadi pencandu narkotika cenderung bertindak kriminal. Apalagi, bila pecandu tak memiliki banyak materi dan bukan dari keluarga berada.

“Minimal dia nyolong di keluarga, sudah banyak yang seperti itu. Saya menemukan fenomena di lapangan seperti itu. Kalau secara detail perilaku kriminal lainnya kita belum dapat datanya. Polisi yang lebih tahu,” tukasnya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Okezone.com