Waspadai ISPA dan Demam Berdarah saat Pancaroba!

Pelajar memakai masker untuk mengantisipasi ISPA. (Antra/El Fitra)
09 November 2018 11:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, TEMANGGUNG — Masyarakat perlu mewaspadai infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) yakni infeksi akut yang menyerang satu kompenen saluran pernapasan bagian atas, serta serangan demam berdarah saat masa pancaroba atau peralihan musim kemarau ke musim penghujan.

"Peralihan musim kemarau ke musim hujan kemungkinan muncul penyakit ISPA dan demam berdarah. Biasanya yang paling banyak penyakit itu, maka masyarakat harus meningkatkan kewaspadaannya," kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Temanggung, Suparjo, di Temanggung, Jawa Tengah, Kamis (8/11/2018).

Salah satu upaya yang perlu dilakukan untuk mengantisipasi hal tersebut, katanya, masyarakat harus meningkatkan kebersihan diri dan lingkungannya. Kemudian makan makanan dengan gizi seimbang. "Jika kondisi lingkungan bersih maka akan mengurangi tumbuh kembang nyamuk, dan jika kondisi badan selalu fit maka akan lebih kebal dari kemungkinan terjangkitnya penyakit," katanya.

ISPA merupakan infeksi akut yang menyerang satu komponen saluran pernafasan bagian atas, di mana bagian itu adalah hidung, sinus, faring, dan laring. Gejalanya antara lain hidung tersumbat dan pilek, batuk kering tanpa dahak, demam ringan, sakit tenggorokan, sakit kepala ringan, bernapas cepat atau kesulitan bernapas, warna biru pada kulit akibat kurang oksigen.

Biasanya menyerang pada sistem kekebalan tubuh mereka yang lemah. Penyebab ISPA adalah virus atau bakteri, seperti Rhinovirus dan Coronavirus, Parainfluenza, Respiratory syncytial virus, serta Adenovirus. Penularannya juga bisa terjadi jika ada kontak dengan orang yang terinfeksi atau melalui barang-barang.

Ia mengatakan demam berdarah dengue disebabkan oleh virus dengue yang dibawa oleh nyamuk Aedes aegypti. Penyakit ini jika parah bisa menyebabkan kematian. Gejalanya demam tinggi hingga 40 derajat Celcius, sakit kepala parah, nyeri pada bagian belakang mata, nyeri otot dan sendi parah, mual dan muntah, serta muncul ruam pada bagian tubuh dan jika parah bisa terjadi perdarahan.

"Pencegahan paling bagus itu pemberantasan sarang nyamuk, yaitu menutup, menguras, dan mengubur (3M). Kita tidak obral fogging, sebab syaratnya harus ada indeks kasus atau ada penderita DB-nya dulu baru boleh di-fogging. Fogging itu malah bisa menyebabkan nyamuk itu resisten maka keturunan nyamuk itu akan menularkan penyakit DB yang tingkatannya berbeda jadi nyamuk malah kebal fogging," katanya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Antara