7 Kecamatan di Pekalongan Rawan Longsor

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Pekalongan Bambang Sujadmiko (baju oranye) saat mendampingi Bupati Asip Kholbihi saat terjadinya kebakaran di Pasar Wiradesa. (Antara/Kutnadi)
09 November 2018 17:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, PEKALONGAN Pemerintah Kabupaten Pekalongan memasukkan tujuh kecamatan di wilayah setempat dalam peta daerah yang dinilai rawan longsor. Terdeteksi pula 10 titik rawan banjir di wilayah setempat.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pekalongan, Bambang Sujatmiko, mengatakan intensitas curah hujan pada November 2018 di wilayah atas dan bawah kini sudah mulai meningkat meski belum merata. "Berdasarkan hasil kajian Badan Geologi Bandung, kita perlu mewaspadai kejadian tanah gerak maupun longsor, khususnya di wilayah atas atau pegunungan," tambahnya di Pekalongan, Jawa Tengah, Kamis (8/11/2018).

Ia menyebutkan tujuh kecamatan itu adalah Kandangserang (potensi tinggi), Kecamatan Paninggaran (tinggi), Petungkriyono (tinggi), Lebakbarang (tinggi), Kajen (sedang), Doro (sedang), dan Kesesi (sedang). Kemudian 10 titik rawan banjir meliputi Kecamatan Tirto, Wiradesa, Wonokerto, Siwalan, Sragi, Kesesi, Buaran, Kedungwuni, Wonopringgo, Bojong, Tirto, Wonokerto, Siwalan, serta Wiradesa.

"Untuk wilayah Kecamatan Kedungwuni ancaman terbesar adalah banjir bandang pada aliran Sungai Sengkarang. Demikian juga di Kecamatan Wonopringgo yang terdapat pertemuan dua sungai sehingga berpotensi terjadi banjir," jelasnya.

Menurut dia, musim kemarau yang relatif panjang yang terjadi pada beberapa bulan sebelumnya dapat menimbulkan rekahan-rekahan tanah yang rawan menyebabkan longsor apabila diguyur hujan. "Jika rekahan-rekahan tanah itu tidak ditutup maka hal itu berpotensi longsor. Hal inilah yang perlu diwaspadai oleh masyarakat," katanya.

Ia mengemukakan untuk mengangtisipasi berbagai kemungkinan bencana memasuki musim hujan ini, BPBD telah membentuk desa tangguh bencana dengan melibatkan para relawan. Empat desa tersebut, yaitu Kutorembet Kecamatan Lebakbarang yang berkaitan dengan potensi longsor, Desa Kesesi Kecamatan Kesesi, Desa Galangpengampon Kecamatan onopringgo, dan Desa Tengengwetan Kecamatan Siwalan terkait potensi banjir.

"Desa-desa yang sudah dibentuk ini akan didorong dapat menangani secara mandiri apabila terjadi bencana. Beberapa hal yang kita berikan antara lain berupa pelatihan relawan, kajian risiko bencana, dan sosialisasi tanggap bencana," katanya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Antara