Duh, Tak Hanya Air Rebusan Pembalut, Anak Jalanan di Jateng Juga Nge-Fly Pakai Ini...

Ilustrasi anak jalanan. (dok. Solopos.com)
11 November 2018 10:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Perilaku menyimpang anak-anak jalanan di Jawa Tengah (Jateng) sungguh memprihatinkan. Tak hanya mengonsumsi air rebusan pembalut untuk mencari sensasi mabuk, mereka juga mencampur bahan-bahan kimia lain yang berbahaya bagi tubuh.

Hal itu diungkapkan Psikolog Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang, Indra Dwi Purnomo, kepada Semarangpos.com, Kamis (8/11/2018).

Indra yang mendapat tugas dari Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Jateng menangani anak jalanan yang kecanduan obat-obatan berbahaya mengaku mendapatkan fakta yang mengejutkan.

"Kadang mereka mengonsumsi air rebusan pembalut itu dengan pil, seperti excimer, riklona, dan antimo. Bahkan ada yang mencampurnya dengan Autan [lotion pengusir nyamuk] atau sambil mengisap obat nyamuk batang," ujar Indra.

Indra menyebutkan pengguna air rebusan pembalut itu mayoritas merupakan remaja usia 13-16 tahun. Mereka merupakan anak jalanan dari berbagai daerah di Jateng, seperti Purwodadi, Pati, Rembang, bahkan Semarang bagian timur.

"Mayoritas anak jalanan yang kami tangani berasal dari daerah pinggiran. Karena saya menanganinya di kantor BNN Jateng, jadi ya di Semarang," kata pria yang sempat menjabat sebagai ketua Center of Addiction Studies (CAS) Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata Semarang itu.

Indra menambahkan perilaku menyimpang remaja ini sebenarnya sudah lama terjadi. Mereka melakukan hal tersebut hanya untuk mencari kesenangan dengan alternatif yang murah.

Mayoritas remaja yang melakukan merupakan anak jalanan yang memiliki permasalahan keluarga. Mereka lari dari rumah dan bertemu rekan sebaya yang senasib.

"Ada yang lari dari rumah karena broken home, ada juga yang karena sering dimarahi orang tua. Intinya mereka enggak betah di rumah dan akhirnya lari ke jalanan," beber pria yang tengah menjalani studi S3 di Malaysia itu.

Oleh karena itu, Indra pun menyarankan para orang tua untuk lebih berhati-hati dalam melakukan pengawasan terhadap anak. Anak usia remaja rentan mengalami permasalahan karena tengah mencari jatidiri.

"Perlu komunikasi yang baik dengan anak. Budayaka sharing dengan mereka, jangan terlalu overprotective karena kalau dikekang anak justru akan tertekan dan mencari pelampiasan di luar," beber Indra.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya