Asal Mula Julukan Mahesa Jenar pada PSIS Semarang

Boneka Mahesa Jenar yang menjadi maskot PSIS Semarang saat diperkenalkan ke publik pada musim 2017 lalu. (dok. Semarangpos.com/Imam Yuda S.)
15 November 2018 12:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG - Boneka berbentuk pria mengenakan pakaian tradisional Jawa setinggi kurang lebih dua meter itu terlihat menari-nari di pinggir lapangan, menjelang laga PSIS Semarang. Boneka yang menjadi maskot PSIS Semarang itu memang selalu menemani PSIS Semarang setiap melakoni laga kandang, baik di Stadion Moch Soebroto, Kota Magelang, maupun Stadion Jatidiri.

Para pendukung PSIS Semarang tak asing lagi dengan boneka maskot berbentuk ksatria atau pendekar Jawa itu. Mereka mengenal sosok boneka itu sebagai Mahesa Jenar yang dijadikan maskot maupun julukan tim kebanggaan warga Semarang tersebut.

Namun, tak banyak yang tahu alasan Mahesa Jenar dijadikan julukan atau maskot untuk PSIS Semarang. Dari penelusuran Semarangpos.com, Mahesa Jenar sebenarnya merupakan tokoh fiksi.

Mahesa Jenar merupakan tokoh utama dalam cerita Nagasasra dan Sabukinten karangan Singgih Hadi (S.H.) Mintardja. Karangan penulis asal Yogyakarta itu sangat populer pada tahun 1960 hingga awal 1990-an.

Saking populernya, karangan S.H. Mintardja itu bahkan sempat dimuat dalam cerita bersambung di Surat Kabar Kedaulatan Rakyat setiap harinya.

Mahesa Jenar dikisahkan sebagai sosok pendekar yang mandraguna, murid dari Ki Ageng Pengging. Saking saktinya, ia bahkan ditunjuk sebagai senopati di Kerajaan Demak dengan gelar Rangga Tohjaya.

Lantas apa hubungannya Mahesa Jenar dengan klub asal Kota Semarang, PSIS? Dalam karangan S.H. Mintardja itu, Mahesa Jenar dikisahkan merupakan pendekar yang berasal dari Kadipaten Pandan Arang, yang kini bernama Semarang.

Wartawan senior olahraga Kota Semarang, Amir Machmud, menyebutkan julukan Mahesa Jenar kepada PSIS Semarang kali pertama diberikan Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Muhammad Ismail, sekitar 1987. Julukan itu disematkan ke PSIS Semarang yang kala itu hendak melakoni laga kontra Persebaya Surabaya pada final Liga Perserikatan.

Ilustrasi suporter PSIS Semarang. (Instagram @panserbiru2001)

“Saat itu almarhum Pak Ismail mengibaratkan laga final antara PSIS melawan Persebaya itu seperti pertarungan Mahesa Jenar dan Sawunggaling [tokoh legenda asal Surabaya]. Sejak saat itu banyak yang menyebut PSIS Semarang dengan julukan Laskar Mahesa Jenar,” ujar Amir saat berbincang dengan Semarangpos.com di Hotel Aston Semarang, Rabu (14/11/2018).

Amir menyebutkan julukan Laskar Mahesa Jenar itu kian populer setelah pada partai final itu PSIS Semarang menang atas Persebaya dengan skor 1-0. Gelar juara itu menjadi yang kali pertama diraih PSIS Semarang sepanjang keikutsertaan di kompetisi papan atas tanah air.

“Sejak saat itu banyak media cetak yang menyebut Laskar Mahesa Jenar sebagai julukan PSIS Semarang. Peran media kala itu sangat besar dalam terbentuknya julukan itu. Apalagi saat itu sendang nge-tren pemberian julukan bagi tim-tim sepak bola,” beber pria yang juga menjabat sebagai Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jateng itu.

Maskot Mahesa Jenar berfoto bersama para pemain PSIS Semarang sebelum laga di Stadion Moch Soebroto, beberapa waktu lalu. (Instagram @psisfcofficial)

Senada juga disampaikan wartawan senior lainnya, Fredo Kustanto. Pria yang meliput PSIS Semarang sejak 1985 itu menilai julukan Mahesa Jenar memiliki efek yang sangat besar bagi tim. Semenjak mendapat julukan itu, prestasi PSIS Semarang pun semakin diakui kancah persepakbolaan Tanah Air.

Tak hanya berhasil meraih gelar juara Perserikatan, PSIS Semarang saat itu juga mampu mengorbitkan para pemain yang berkontribusi bagi Timnas Indonesia, seperti Ribut Waidi. Ribut bahkan sukses mempersembahkan medali emas kali pertama bagi Indonesia di ajang SEA Games 1987.

“Selain Ribut, beberapa pemain PSIS Semarang kala itu juga sempat dipanggil Timnas, seperti Ahmad Muhariya, Budi Wahyono, dan lain-lain. Dulu skuat PSIS Semarang sangat ditakuti karena permainannya yang apik, sampai Gubernur Ismail memujinya,” tutur Fredo.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya